Happy 1st Anniversary – Merajut Cinta

tahun-pertama-pernikahan-honeymoonjournal-dotcom

Tahun kesatu dari lima tahun pertama pernikahan adalah langkah awal untuk saling beradaptasi. Sudah banyak yang bilang kalau tahun pertama itu penuh dengan perjuangan. Faktanya? Perjalanan 1 tahun pertama kami penuh dengan rasa! Manis, asem, pahit, gurih, pedessss… Semuanya, suka ga suka, memang harus dicicipi.

Awal pernikahan kami bisa dibilang beruntung. Kenapa? Karena kami masih ‘ditampung’ di rumah orang tua saya. Walaupun kondisi keuangan, baik di rekening saya maupun Kangmas ga begitu banyak, tapi Alhamdulillah masih ada untuk bekal hidup beberapa bulan ke depan. Dana untuk resepsi pernikahan kami di bawah budjet sehingga masih ada yang bisa di-saving. Kalau dibilang mulai dari 0 banget sih ga, dari angka 10 dari 100 kali yah, soalnya biaya makan masih ditanggung orang tua, hihihi… Makanya saya salut banget sama pasangan suami-istri yang setelah menikah langsung memisahkan diri hidup hanya berdua. Standing applause for them!

Kami berdua sepakat untuk masih tinggal bersama orang tua karena kami mempunyai visi untuk mendahulukan usaha passive income dan berusaha menghindari riba dengan membeli rumah secara cash atau metode syariah. Hal ini sudah kami bicarakan sebelum menikah.

Selama 1 tahun bersama, banyak hal baru yang kami temui, pelajari dan pahami.

FASE ADAPTASI

Seminggu setelah menikah, kami honeymoon ke daerah Lembang, Bandung. Tiga minggu kemudian, kami menjadi pasangan budjet traveler ke Singapur, Malaysia dan Thailand dalam 5 hari! Ini sih bukan honeymoon murni, jalan-jalan judulnya. Soalnya beneran kebanyakan jalan kaki selama di sana. Cerita lengkapnya nanti saya posting tersendiri yah…

Nah, kehidupan menikah sesungguhnya dimulai dari sini. Sebulan pertama tadi masih terasa hawa pengantin baru. Seolah balon-balon cinta berwarna merah muda memenuhi angkasa.  Sepulang dari Thailand, mulailah kami menghadapi fase pertama: fase adaptasi.

fase-adaptasi-tahun-pertama-pernikahan-honeymoonjournal-dotcom

Hampir 10 tahun saya dan Kangmas saling kenal, bukan jaminan kami sudah saling tahu sifat masing-masing. Tinggal seatap, sekamar mandi, sekamar tidur sampe *ehm* seranjang membuka semua tabir meskipun sudah saling kenal dari zaman SMA.

Padahal dulu tuh yah, kami berdua berprinsip ga bakal nutup-nutupin sok-sok jaim gitu, blak-blakan lah. Eeeh, teuteup yah beneran baru tahu sedalem-dalemnya, sedetail-detailnya kalau sudah berumah tangga. Apalah arti 9 tahun yang lalu itu 😂.

Misal, ternyata ada makanan yang ga disuka Kangmas (padahal saya dan doi dulu terkenal dengan tim sweeping makanan). Dan ternyata Kangmas baru tau klo saya udah nemu senderan, kepala nempel dikit, susah dibanguninnya.

Tentang kultur keluarga pun berbeda. Keluarga saya gimanaaaa, keluarga Kangmas giminiiiii. Karakter yang sudah terbentuk dari keluarga masing-masing dibawa dan dijadikan satu menjadi kita. Kebiasaan-kebiasaan lama ketika masih single pun terbawa. Contohnya, jadwal memakai baju Kangmas tidak beraturan karena Kangmas dulu anak kostan. Sedangkan saya diajari bahwa baju maksimal 2 hari sekali ganti. Contoh lainnya, sebelum saya menikah, baju favorit saya di rumah adalah kaos dan celana pendek. Tapi ternyata, Kangmas lebih suka melihat saya memakai baju yang lebih cewe, seperti daster.

Hal sepele, bukan? Tapi hal-hal kecil ini jika tidak dihadapi dengan baik, justru akan menjadi bahan pertengkaran. Jujur, fase adaptasi ini penuh dengan drama. Dan entah mengapa, setelah menikah saya justru menjadi sensitif. Dikit-dikit sedih, dikit-dikit nangis. Saya juga bingung, hehehe…

Fase adaptasi juga tidak hanya terjadi pada suami-istri, tapi juga pada orang tua masing-masing. Ibu dan Bapak juga mengalami fase adaptasi karena ada anak laki-laki baru yang tinggal di rumah. Kalau dulu interaksi hanya sebatas jemput mau jalan, nganterin pulang dan ngobrol sampai waktu pulang, sekarang hampir 24 jam bertemu. Tentu ada beberapa hal yang berubah karena anak-anak orang tua saya perempuan semua.

Ketika waktunya saya yang nginep di rumah mertua pun sama. Papa dan Ibu mertua juga akan mengalami fase adaptasi karena anaknya nambah satu. Apa lagi lingkungan rumah saya dan mertua beda banget. Kalau di rumah, saya dan tetangga hidup masing-masing saja. Hanya menegur ketika bertemu. Tapi di rumah mertua yang guyub-nya kerasa banget. Perbedaan signifikan ini jadi culture shock buat saya dan Kangmas.

KOMUNIKASI

Masalah-masalah di fase adaptasi akan dapat diselesaikan jika komunikasi di antara suami-istri terjalin dengan baik. Bagaimana komunikasi kami? Kami rasa, masih jauh dari sempurna tapi kami terus berusaha untuk memperbaiki diri dari hari ke hari.

Di awal-awal, ada saatnya kami saling diam. Yang namanya istri, didiemin suami tuh rasanya sedih banget! Saya ingat jika kita tidur saat suami diam dan tidak ridha, Allah juga tidak akan ridha dan malaikat akan melaknatnya hingga pagi. Alhasil, saya nangis (dalam diam), deh. Saya tahu, Kangmas juga sedang mengatur emosinya agar tidak meledak-ledak seperti dulu zaman sekolah. Didiemin aja rasanya sedih, gimana dimarahin coba?

Setelah kami berdua tenang, baru deh kami membicarakan apa akar masalahnya dan bagaimana solusinya. Proses komunikasi ini tidak terbentuk dalam sehari-dua hari, atau seminggu-dua minggu saja. Butuh berbulan-bulan bagi kami meramu teknik komunikasi yang baik, ciamik, cocok untuk kedua pihak dan yang penting less drama.

komunikasi-tahun-pertama-pernikahan-honeymoonjournal-dotcom

Untuk hal komunikasi ini memang banyak trik dan tipsnya. Tidak bisa disamaratakan ke semua pasangan. Tidak ada petunjuk teknis yang pasti. Yang penting, gunakan kata-kata yang lembut dan berusaha untuk tidak menyakiti hati pasangan. Jika memang harus mengutarakan hal yang kurang baik, beritahu pasangan pada saat keadaan baik dan tenang. Insya Allah, jika kita dalam keadaan tenang dan kepala dingin, yang dibicarakan adalah solusi, bukan memperkeruh suasana.

Bagaimana kalau ada sifat dan perilaku dari pasangan yang kurang kita sukai? Bagi saya dan Kangmas, hal seperti ini memang harus dibicarakan. Setiap tanggal 23 tiap bulannya, kami selalu menyempatkan diri untuk makan atau sekedar ngopi-ngopi di tempat yang enak untuk ngobrol. Lalu, kami me-review kejadian selama sebulan ke belakang. Nah, di sinilah saatnya untuk mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal. Tapi tetap dengan bahasa yang santun dan kalau perlu minta maaf dan puji dulu di awal.

“Masku yang ganteng/Istriku yang cantik, maaf loh selama sebulan ini aku belum bisa jadi istri/suami yang baik. Ada beberapa hal yang ternyata aku kurang suka. Misalnya, blablabla…”

Bahkan kalau kita tidak suka diperlakukan seperti apa juga harus bilang. Contohnya, saya adalah orang yang ga bisa dikerasin kalau dikasih nasihat. Meskipun Kangmas tidak marah tapi bicara dengan nada yang agak tinggi saja saya langsung baper. Nah, dibanding menahan kesel terus, baper terus, nangis terus kan lebih baik bilang kalau Kangmas mau ngasih tahu saya, kalau bisa nadanya biasa aja. Tentu hal ini menjadi masukan untuk Kangmas. Hasilnya sekarang kalau Kangmas mau ngasih nasihat ke saya dengan nada yang lembut. Prosesnya berapa hari? Oh, berminggu-minggu sampai Kangmas menemukan formula yang tepat agar bisa memberi nasihat kepada saya tanpa menyakiti hati.

Begitu juga treatment saya kepada Kangmas. Namanya manusia, ada saatnya berada di titik emosi dan lelah. Ada beberapa trik menghadapi Kangmas yang sedang berada di titik ini. Kangmas sendiri yang bilang kalau dia sedang begitu, dia ingin saya begini. Dan saya berusaha sebaik mungkin untuk mengikutinya.

Feedback dari pasangan juga harus kita apresiasi. Usahakan untuk saling mengerti dan memahami. Kalau sudah tahu keinginan masing-masing kan lebih nyaman dan lebih sayang hidup bersama sang cinta.

Oh iya, pada tanggal 23 itu juga kami merencanakan akan melakukan apa di bulan depan. Apakah ada barang yang harus dibeli? Seberapa urgent? Ada improvement apa yang bisa dilakukan? Kami tulis loh setiap ide dan gagasan. Udah kayak minutes of meeting alias resume rapat. Hehehe… Menurut kami ini efektif sebagai rekaman dan pengingat.

Pada tanggal 23 Juli kemarin, kami lebih membahas target apa saja yang ingin kita capai untuk tahun depan, termasuk persiapan kelahiran Kabay.

MANAJEMEN EMOSI

manajemen-emosi-tahun-pertama-pernikahan-honeymoonjournal-dotcom

Ada kalanya saya yang suka manja-manja ngegemesin (baca: nyebelin) terus bikin Kangmas menarik napas dan menghebuskan napas perlahan. Kalau udah gini, artinya akan ada “diskusi agak berat” 😅. Ada juga saatnya Kangmas yang balik ‘ngegemesin’. Pengen rasanya uwel-uwel pipinya, perutnya, badannya, pokoknya semuanya deh biar rasa ‘gemes’ itu hilang.

Di sinilah pentingnya teknik berkomunikasi. Kalau lagi adem-ayem aja sih, ga ada konflik, ya baik-baik saja. Ketika ada masalah barulah kedewasaan kita diuji. Saya sebagai istri, jangan mentang-mentang saya seorang wanita yang lebih sensitif pengennya dimengerti saja. Kangmas juga sebagai suami, tidak mentang-mentang sebagai kepala keluarga menjadi keras dan saklek. Kami berusaha agar bisa mengatur emosi dengan baik.

“What happens in our room stays in our room” adalah prinsip kami dalam menyelesaikan masalah. Jangan sampai masalah yang sedang kami hadapi terdengar, bahkan ke orang tua sendiri pun, selama kami masih bisa menyelesaikannya berdua. Ketika salah satu dari kami sedang emosi pun, kami berusaha agar tidak menunjukkannya kepada orang rumah. 

SELALU BERSYUKUR

selalu-bersyukur-tahun-pertama-pernikahan-honeymoonjournal-dotcom

Kehidupan rumah tangga membuat saya pribadi semakin banyak bersyukur kepada Allah. Saya bersyukur Allah sudah menyatukan kami berdua di janji suci nan sakral bernama pernikahan. Saat mengusap tangan Kangmas, dari sanalah Allah titipkan rezeki halal untuk keluarga. Saat mengusap dahinya, dari sanalah kadang bulir peluh mengalir demi membahagiakan keluarga kecilnya. Saat mengusap punggungnya, tubuh inilah yang selalu siap dan tegak menjaga keluarganya.

Menikah itu membawa rezeki karena Allah akan mencukupkan. Hal ini sudah kami buktikan. Banyak hal-hal yang tak terduga dari Allah limpahkan kepada kami, baik secara materi maupun non-materi. Keberkahan dan ketenangan dalam hidup juga merupakan rezeki yang harus kita syukuri.

Setahun pernikahan kami juga bertepatan dengan usia kandungan saya yang memasuki minggu ke-22. Sebuah rezeki sekaligus amanah yang Allah titipkan kepada kami berdua. Sehat selalu yah, Kabay… Insya Allah, beberapa bulan lagi kita akan bertemu 😘.

Semoga tahun kedua dan tahun-tahun selanjutnya kami selalu bisa mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah, menjadi pribadi dan keluarga yang lebih baik. Insya Allah, tahun kedua kita sudah bertiga bersama Kabay 😄

Salam Cinta,
Istrimu

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *