Jika Niat Menikah Karena Lelah, Dapatkah Lillah?

“Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi.”

Saya pernah baca semacam quote ini di gambar yang dibagikan teman facebook saya. Kata saya dalam hati, “Tumbenan amat dia share quote kayak gini?” Eh ternyata pas baca komen-komennya, dia juga termasuk yang kurang sreg sama kalimat yang tertulis di situ.

Hmmm… Saya jadi merenung, apakah bisa dibenarkan niat ingin menikah hanya karena lelah bekerja?

Macem-macem sih yah, niat menikah setiap orang itu.

– Ada yang sudah terlalu lama pacaran jadi sudah muncul pertanyaan, “Kamu serius ga sih, sama aku?” dan “Mau dibawa kemana hubungan kita?”. Bahkan karena selalu jadi korban pertanyaan ultimate tiap tahun pas kumpul keluarga waktu lebaran: “Kapan nikah?”

– Ada yang sudah merasa selesai dengan diri sendiri sehingga ingin berdua merajut rumah tangga. Sudah terlalu lama sendiri~ Sudah terlalu lama aku asyik sendiri~ *yak, semuanya nyanyiiiii~

– Ada pasangan yang sama-sama dapet beasiswa ke luar negeri satu negara, terus sama kedua orang tua mereka lebih baik dinikahkan saja supaya bisa saling menjaga di negeri orang (ini pengalaman asli murid ibu saya).

– Ada juga yang faktor ekonomi, lebih baik menikah karena ada yang membiayai. Pokoknya beraneka ragam niat orang menyatukan dua keluarga di satu naungan bernama pernikahan itu.

Menurut saya pribadi, pribadi looh, jika niat menikah hanya karena lelah bekerja itu niat yang harus diluruskan. Kenapa? Memangnya sudah beres ijab qobul lalu habis perkara? Masih banyak PR loooh yang menanti di depan sana. Ijab qobul itu baru gerbang awal dari perjalanan menuju surga-Nya. Kalau Allah sudah berjanji dengan imbalan surga, berarti perjuangannya ga main-main.

Saudari-saudariku yang sempat punya pemikiran seperti ini, memangnya kalian ga kasian sama suami tercinta kalian yang sudah mengucap janji dan transaksi pahala-dosa dengan wali kalian dengan nama Allah? Sedangkan kalian niat menikah hanya karena lelah? Ijab qobul itu sebuah kalimat yang dapat menggetarkan Arsy-Nya. Sebuah kalimat yang penuh tanggung jawab di dalamnya. Sejak ijab qobul diucapkan, surga kalian sudah pindah ke ridha suami, pun kalau kalian berdosa, suami yang menanggung dosanya.

Perkara lelah, beban lelah dan jenuh bekerja pasti dirasakan oleh semua orang. Jika kita lelah bekerja, kita masih bisa istirahat sebentar, ambil cuti, jalan-jalan liburan dan foto-foto buat ngisi feed di instagram, atau kongkow-kongkow bareng temen segeng. Nah, kalau lelah bekerja terus ingin dinikahi?

Pernikahan bukan proses sesederhana itu, cyiiin. Setelah resepsi pernikahan, justru ‘pekerjaan’ dan perjuangan panjang yang tidak kenal istilah cuti telah menanti. Mengurus rumah, menjaga keharmonisan suami-istri, proses kehamilan, mengurus dan mendidik anak adalah proses yang tidak bisa kita tinggalkan hanya karena alasan “Saya lelah menjalani semua ini”. Menikah adalah sebuah komitmen seumur hidup bahkan hingga ke surga. 24 jam dalam 7 hari, kita ga bakal bisa resign dari ‘pekerjaan’ kita sebagai seorang istri dan seorang ibu, mau selelah dan sebosan apapun kita.

Menjadi seorang istri dan seorang ibu itu amanah yang luar biasa dari Allah loooh… Masa kita mau nerima amanah dari Yang Maha Kuasa ini dengan alasan yang retjeh? Malu doong…

Nih yah, kalau lelah sama kerjaan, cobain satu-satu cara ‘kabur’ dari rutinitas:

  1. Coba itung jatah cuti tahunan, udah diambil belum? Ceki-ceki situs pemesanan tiket pesawat, cari tiket promo, bikin itinerary buat lanjalan ketjeh bareng temen. Sendirian? Yowess, Ikut aja open trip yang udah terpercaya. Kalau kata anak zaman now mah “I need vitamin-sea!” gitu kan. Yang punya kamera mirrorless atau kamera hp ketjeh jangan lupa dibawa, mayan kan buat ngebagusin feed instagram.
  2. Cuti tahunan udah mau abis? Staycation di hotel dalam kota pas weekend juga asik. Menikmati fasilitas spa atau kolam renang hotel bikin otak rileks. Atau ke salon buat luluran, facial, massage, creambath, meni-pedicure untuk meluruskan otot-otot tubuh yang kaku dan kabur sementara dari kenyataan hidup yang penuh tekanan *uhk
  3. Jatah cuti udah abis dan ga bisa ngajuin lagi? Makan-makan enak lah sesekali. Traktir keluarga ke resto mana gitu, insya Allah berkah membahagiakan keluarga. Perut kenyang, hati tenang, pikiran senang, kerjaan menantang silakan datang!
  4. Dompet menipis dan budjet di rekening udah meronta minta diisi tapi belum tanggal gajian? Kongkow-kongkow bareng temen ga harus selalu mahal, kan. Makan-makan di tenda pinggir jalan, macam di warung roti bakar ditambah mie kuah pedas kornet keju plus secangkir bansus bareng temen kantor sepulang kerja juga oke. Biaya di bawah 50 ribu tapi cerita-cerita dan ketawa-ketawa melepas penat bareng temen itu priceless!
  5. Cuti udah nol dan nominal di rekening juga nyaris nol? Coba me time yang ga ngeluarin uang, deh. Kayak baca buku, nulis curhatan di diari (masih zaman ga sih ini?) atau di blog. Nonton film favorit, drama korea atau western series di laptop seharian sambil leyeh-leyeh ngemil cantik di kamar juga ga apa-apa. Mumpung belum ada yang minta perhatian, hihihi… Kalau udah punya suami apa lagi anak mah kan beda lagi ceritanya.
  6. Yang terakhir, jangan lupa menundukkan kepala ke hamparan sajadah saat sepertiga malam. Saat kamu merasa beban sudah terlampau berat, ambillah air wudhu dan tumpahkan keluh kesah bahkan air matamu kepada Allah. Yakinlah, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Minta apapun yang kamu mau, berdoa apapun yang kamu inginkan, termasuk tolong angkat lelah bekerja ini. Insya Allah, curhat sama Allah itu ga bakal rugi.

Allah senang kok hamba-Nya datang kepada-Nya dan berdoa. Buktinya, Allah selalu memanggil kita lima kali sehari *setiap hari!* tanpa pernah bosan supaya kita bisa istirahat sebentar dan berdoa pada-Nya. Padahal sebenarnya yang butuh Allah itu kan kita. Kita masih bisa bangun pagi hari untuk bekerja meskipun udah kebayang kerjaan yang numpuk. Ngerasa ga adil karena jarak dari Senin ke Jumat itu jauh banget 5 hari, sedangkan Minggu ke Senin cuma sehari tapi Allah masih memberikan kita waktu untuk bernapas dan bekerja dalam keadaan sehat. Tuh, kurang sayang apa coba Allah sama kita?

Balik lagi ke pernikahan. Yuk, dampingi suami-suami kita dengan niat yang lurus. Menikahlah jika memang sudah saatnya menikah. Plis, jangan kontaminasi ibadah seumur hidup ini dengan niat yang kurang tepat. Masih banyak yang bisa dilakukan saat kita lelah bekerja. Untuk singelillah yang solehah, lebih baik terus meningkatkan kemampuan diri dan mempersiapkan hati. Jadi waktu nanti ada seorang lelaki soleh yang dengan gagah berani melamar “Maukah kamu menjadi istriku?”, kita bisa menjawab “Insya Allah, dengan izin Allah, aku siap, Mas,” sambil mesem-mesem malu gitu. Ciecie ga tuh?

Jika niat menikah sama-sama mengharap ridha Allah, insya Allah, lelah saat menjalani dan membangun rumah tangga pun akan menjadi Lillah. Karena, bukankah hal yang terindah itu bisa berkumpul lagi bersama orang-orang yang kita cintai di surga-Nya nanti?

 

Salam cinta,

honeymoonjournal-dotcom

You may also like

4 Comments

  1. Ya ampun mbak ini relate banget sama yang saya rasakan, kadang bingung sama yang menikah karena capek menghadapi ini itu, skripsi ga kelar-kelar malah pikirannya pengen nikah, padahal nikah lebih berat dari ngerjain skripsi XD
    Kalau masih single pengennya main-main duluuuuuu, ikut trip kayak yg mbak bilangggg..

    Kalo semisal ada yang menikah, alasannya membahagiakan orangtua, saya jadi bingung ini tuh gimana padahal ketika menikah diri kita udah ga 100% pada orangtua, iya ga sih mbak? bingung hehehe

    1. maafkan baru balessss…
      Yang pengen nikah gegara skripsi ga kelar-kelar berarti belum ngerasain nikah kan, hehehe, klo nanti keburu nikah pas skripsi belum beres baru deh bilang, “Kalau gitu beresin skripsi dulu,” pendapat saya aja sih ini mah… Ada kok beberapa temen saya yang bisa dua-duanya jalan berbarengan, luar biasaaaa… Tapi salah satu dikorbankan dulu, entah beres skripsinya yang agak lama atau skripsi tepat waktu tapi waktu bersama suami or anaknya yang berkurang sampai beres hardcover skripsi, tergantung pilihan~ Makanya saya beresin satu-satu dulu, kuliah beres baru nikah, biar waktu bersama Kangmasnya ga terganggu, hehehe…

      Menurut saya, orientasi menikah jangan orang tua. Ya bener kata mba, ketika sudah menikah, istri 100% harus ‘ikut’ suami kemanapun karena tanggungjawabnya sudah pindah dari ayah ke suami. Nanti dilema deh…

  2. Iya nihh saya juga termasuk yang nggak setuju sama pernyataan ini. Karena semakin sering baca tulisan tentang parenting, menikah nggak segampang itu. Mantap banget lah tips menghilangkan capeknya. Bakal dilakuin. Mumpung jomblo :p

    1. Maafkan baru bales jugaaa…
      Parenting sendiri seninya menjadi orang tua, karena apa yang tertulis di teori belum tentu bisa diaplikasikan pada anak. Namanya juga anak, punya keunikan masing-masing *ngomong sama diri sendiri juga*

      Ayo mba, mumpung masih single puas-puasin jalan-jalan yang jauuuuh, nanti klo udah ada suami mah harus izin dulu, kecuali jalan-jalannya bareng suami, hihihi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *