Cegah Stunting, MengASIhi Sebagai Investasi Awal Sehatkan Negeri

mengASIhi mencegah stunting honeymoonjournal.com

Sebelum menjadi seorang calon ibu, saya kurang mengikuti berita dan perkembangan ilmu pengetahuan tentang kesehatan ibu dan anak. Ya, memang biasanya kita akan mencari tahu tentang sesuatu jika sudah bersinggungan dengan hal tersebut. Seperti saya, lagi searching tentang ASI, ehhh ketemu tentang stunting. Baca artikel semakin dalam jadi semakin aware tentang si stunting ini. Jadi, apa sih stunting itu? Seberapa besar dampak negatifnya untuk anak kita dan untuk negeri? Bagaimana cara untuk mencegah stunting?

Sebagian besar masyarakat kita belum familiar dengan istilah stunting tapi akrab dengan ‘kurang gizi’. Menurut WHO (World Health Organization), stunting merupakan suatu keadaan di mana tinggi badan anak yang terlalu rendah atau pendek berdasarkan umur yang berada di bawah minus 2 standar deviasi (< -2SD) dari tabel status gizi WHO child growth standard (WCGS). Hal ini terjadi karena masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama. Stunting sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif (kecerdasan). Jadi, kurang gizi menjadi salah satu faktor penyebab stunting pada anak.

Sejak tahun 2008, kurva tumbuh kembang anak di Kartu Menuju Sehat (KMS) yang terdapat di buku pink Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sudah mengacu pada WCGS.

KMS Anak Laki-laki di Buku KIA

 

APAKAH PERAWAKAN TUBUH PENDEK SELALU DISEBUT STUNTING?

Oh, tidaaaak… Ini juga pertanyaan pertama saya waktu baca definisi stunting. Soalnya rezeki tubuh saya itu minimalis, imut-imut menggemaskan gitu, hihihi… Nah, bedanya kalau perawakan pendek itu kecepatan tumbuhnya normal dan ada potensi genetik. Tapiiii, kalau stunting, kecepatan tumbuhnya tidak normal karena nutrisi tidak terpenuhi dengan baik. Paham bedanya, buibu dan pabapa? Saya juga masih belajar, belajar bareng yuk…

kemenkes ri stunting mengASIhi mencegah stunting honeymoonjournal.com
Definisi Stunting (via www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Pola pertumbuhan manusia paling pesat di 3 tahun pertama kehidupan, nanti akan menurun dan naik lagi di masa-masa pubertas. Terutama anak laki-laki. Ini kalau yang normal, yah… Kalau stunting, sebenarnya masih bisa dikejar untuk pertumbuhan badannya. Catch up istilahnya. Tapi, masa harus nunggu anak remaja dulu baru ketahuan kalau dia stunting? Kan kasian… Karena, meski masih bisa terkejar untuk fisiknya, tapi untuk kerusakan otak karena kekurangan nutrisi saat 1000 Hari Pertama Kehidupan anak itu sifatnya irreversible alias permanen dan tidak bisa diperbaiki. Kemampuan berpikirnya akan terhambat dan akan berpengaruh pada masa depannya.

Anak yang menderita stunting akan kurang menangkap materi di sekolah, lalu akan mendapatkan penghasilan 20% lebih rendah dari mereka yang tidak stunting saat dewasa. Belum lagi resiko orang tua yang mengidap stunting akan melahirkan generasi yang memiliki kesempatan besar untuk stunting juga. Nah kan, ga beres-beres jadinya, muter terus di lingkaran stunting. Iiiih, ngeriii…

Sayangnya, Indonesia menduduki peringkat ke-5 pengidap stunting di dunia. WHO menetapkan batas toleransi maksimal stunting adalah 20%. Di tahun 2013, ada 37% (sekitar 9 juta) balita mengalami stunting (Riset Kesehatan Dasar 2013). Target pemerintah ingin menurunkan angka stunting ini turun hingga mencapai 28% pada tahun 2019. Masih di atas batas WHO sebenarnya, tapi sudah merupakan ambisi yang sangat baik demi menuju Indonesia sehat dan kemajuan bangsa Indonesia sendiri.

Penurunan stunting menjadi bagian dari prioritas pengawasan Itjen Kemenkes RI (via www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

 

APA SAJA SIH PENYEBAB STUNTING?

  • Kekurangan gizi dalam waktu lama di 1000 Hari Pertama Kehidupan (sejak janin sampai 2 tahun).
  • Rendahnya akses terhadap makanan bergizi (rendahnya asupan vitamin, mineral dan keberagaman pangan serta sumber protein hewani).
  • Kurangnya perhatian keluarga dan pola asuh karena kurangnya pengetahuan.
  • Sering mendapat infeksi di fase awal kehidupan anak.
  • Kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang baik.
Kampanye Nasional Pencegahan Stunting September 2018 (via www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Ternyata, stunting tidak hanya terjadi di daerah-daerah atau desa-desa saja loh! Jakarta yang ibu kota negara saja masih banyak kasus stunting. Meskipun masih di bawah tingkat nasional, yaitu sebesar 27%, tapi ini merupakan masalah mendasar yang harus ditangani secara serius. Jadi, stunting tidak ada hubungannya dengan lokasi tempat tinggal. Stunting berhubungan langsung dengan pola makan, pola asuh dan pola kebersihan.

 

BAGAIMANA CARA MENCEGAH STUNTING?

Cara Mencegah Stunting (via www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Upaya pencegahan stunting yang paling optimal adalah di masa 1000 hari pertama kehidupan anak yang meliputi masa dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

  • Pemenuhan kebutuhan zat gizi ibu hamil. Jangan lupa diminum vitamin dari bidan atau dokter yah, bumil-bumil cantik… Makan yang bergizi demi kita dan debaynya supaya sehat.
  • ASI eksklusif (ASIX) untuk bayi selama 6 bulan. Selama tidak ada indikasi medis, usahakan anak hanya mengonsumsi ASI tanpa ada tambahan susu formula.
  • Pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) untuk bayi di atas 6 bulan hingga 24 bulan. MP itu Makanan Pendamping, bukan Makanan Pengganti. Jadi, anak tetap mengonsumi ASI lalu ditambah nutrisi dari makanan padat. Sesuaikan tekstur makanan bertahap sesuai perkembangannya, mulai dari lembut disaring, agak kasar hingga anak bisa makan masakan yang diolah sama seperti orang dewasa.
  • Memantau pertumbuhan balita di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya. Pengukuran berat badan dan tinggi anak di fasilitas kesehatan sebulan sekali sangat penting agar kita dapat melihat apakah perkembangan anak sesuai dengan KMS. Jika ada indikasi stagnan atau bahkan menurun, bisa langsung konsultasi pada ahlinya.
  • Meningkatkan akses air bersih dan fasilitas sanitasi, juga menjaga kebersihan lingkungan. Selain pola makan dan pola asuh, pola kebersihan keluarga dan lingkungan juga tidak kalah penting. Air bersih dan fasilitas sanitasi yang baik sangat berpengaruh pada kesehatan, bukan hanya anak tapi seluruh keluarga.

 

1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN YANG SANGAT PENTING

Periode Emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (via indonesiabaik.id)

1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode emas fase pertumbuhan anak. Titik kritis ini meliputi periode dalam kandungan 280 hari, 0-6 bulan 180 hari, 6-8 bulan 60 hari, 8-12 bulan 120 hari dan 12-24 bulan 360 hari.

Pada periode ini, terjadi perkembangan otak yang sangat pesat. Periode ini sangat penting dan sebuah investasi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Gizi harus tercukupi. Jika kekurangan gizi pada 2 tahun awal ini, anak-anak akan mengalami kerusakan otak permanen yang tidak dapat diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya.

Gizi harus terpenuhi di 1000 Hari Pertama Kehidupan

 

MENGASIHI, INVESTASI AWAL SEHATKAN NEGERI

Salah satu langkah mencegah stunting adalah pemberian ASI di periode 1000 HPK. Mulai dari praktek Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selama sejam setelah bayi lahir agar bayi dapat meminum kolostrum yang dihasilkan oleh ibunya. Kolostrum ini menjadi suplai imunitas dan gizi pertama untuk bayi yang baru lahir.  Selain faktor gizi, IMD ini meningkatkan bonding antara ibu dan bayinya.

MengASIhi investasi awal sehatkan negeri (via parents.com)

Kandungan gizi yang terdapat pada ASI sangat baik sekali. Makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) sampai mikronutrien (vitamin dan mineral) lengkap terkandung di dalam ASI. Oleh karena itu, bayi cukup diberi ASI saja sampai usianya 6 bulan.

Pemberian ASI eksklusif (ASIX) ini sangat penting untuk mencegah stunting pada anak karena gizi sudah terpenuhi. Yang perlu diingat adalah asupan gizi untuk ibu yang menyusui. Ibu yang menyusui harus tercukupi juga kebutuhan nutrisinya agar dapat memberikan ASI yang bergizi juga.

 

CARA MENGASIHI YANG BAIK DAN BENAR

Yang tidak kalah penting, cara menyusui pun harus baik dan benar. Ibu tidak asal memberikan payudaranya agar bayi tidak menangis saja. Di sinilah butuh ilmu dan pengalaman tentang pelekatan yang baik dan benar.

Apakah buibu sudah tahu bahwa ASI terdiri dari beberapa bagian? ASI memiliki 2 bagian, yaitu foremilk (susu depan) dan hindmilk (susu belakang). Foremilk ini diproduksi saat proses awal menyusui, berwarna putih agak bening dan tinggi kandungan airnya. Foremilk ini mengandung protein dan laktosa yang berfungsi untuk membentuk jaringan tubuh dan menghilangkan haus si kecil. Nah, setelah foremilk, baru terbentuklah hindmilk. Hindmilk berwarna putih yang lebih pekat dibandingkan foremilk dan mengandung lemak yang lebih tinggi. Lemak ini berfungsi untuk perkembangan otak dan menaikkan berat badan si kecil. Jika hindmilk ini terpenuhi, maka bayi akan kenyang dan tidur lebih nyaman.

foremilk dan hindmilk (via theurbanmama.com)

Orang tua dulu menyarankan jika menyusui harus bergantian payudara kiri dan kanan agar ukuran payudara tetap sama. Karena kita sama-sama sudah tahu tentang bagian-bagian ASI ini, maka lebih baik menyusui bayi itu sampai ASI di 1 payudara ‘kosong’ ya, bu… Setelah selesai di satu payudara, maka baru gantian ke payudara yang lain. Kenapa? Karena menyusu di satu payudara, bayi akan sempat mengonsumsi hindmilk yang tinggi lemak dulu dan lebih cepat kenyang. Jika bergantian sebelum payudara yang satu ‘kosong’, maka bayi hanya akan meminum foremilk yang tinggi air. Alhasil, bayi menjadi gelisah.

Ibarat kita orang dewasa, saat lapar kita malah hanya kebanyakan minum air saja tanpa makanan padat. Bayi pun sama, hanya bentuk makanannya saja yang berbeda. Justru, menyusui satu payudara sampai bayi puas lebih efektif dibandingkan bergantian. Ok, bu?

 

PELEKATAN IBU DAN BAYI

Masalah yang terjadi di awal proses mengASIhi, terutama pada ibu baru, adalah puting payudara yang lecet karena ibu dan bayinya sama-sama masih belajar. Ibunya belajar menyusui dan bayinya belajar menyusu. Tenang bu, kita banyak teman seperjuangan, kok… Puting lecet bukan halangan untuk terus mengASIhi. Nah, untuk mengurangi atau bahkan menghindari masalah ini, proses pelekatan (latch on) antara ibu dan bayi harus benar.

Selain itu, pelekatan yang sempurna juga membantu bayi untuk dapat meminum ASI dengan baik. Proses menyusu yang benar adalah bayi menggunakan lidahnya untuk merangsang keluarnya ASI (suckling). Jadi, bayi bukan hanya menghisap saja (sucking).

Cara Pelekatan yang Baik dan Benar (via breastfeedo.com)
Tanda Pelekatan Sudah Baik (via breastfeedo.com)

Ternyata proses menyusu dan menyusui itu melalui aerola (bagian yang kehitaman) loooh, bukan melalui puting. Jadi memang proses pelekatan ini harus benar-benar dikuasai oleh ibu dan bayi agar gizi bayi terpenuhi. Ilmu baru juga untuk saya yang sedang menunggu kelahiran Kabay sebentar lagi.

Menurut pengalaman teman-teman saya yang baru menjadi new mom, semakin hari ibu dan bayi akan semakin pandai dan ikatan batinnya akan semakin kuat. Puting lecet, si kecil yang menangis, kebingungan menjadi newbie parents adalah dinamika yang pasti dialami juga oleh banyak keluarga muda. Yang penting, jangan menyerah untuk terus mengASIhi 🙂

 

MENGASIHI UNTUK IBU BEKERJA

“Saya seorang ibu sekaligus karyawan. Jatah cuti hanya 3 bulan sedangkan pemberian ASIX harus sampai 6 bulan. Bagaimana cara saya agar dapat mengASIhi si kecil dengan baik?”

Nah, pertanyaan ini pasti sempat terlintas untuk buibu yang bekerja di ranah publik. Termasuk saya dan puluhan buibu di kantor tempat saya bekerja. Tenang, bu, kita sama-sama pejuang ASI yang diberi kesempatan untuk berkarya juga di ranah publik. You’re not alone~

Asi Perah dan Breast Pumping (via hipwee.com)

Semakin tinggi awareness tentang ASIX ini juga tidak luput dari pemantauan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dua organisasi ini sudah memberikan tips dan trik agar ibu bekerja juga tetap dapat memberikan ASIX kepada anak tercinta.

  • Jika memungkinkan, bawa bayi ke tempat bekerja.
  • Jika memungkinkan, ibu menyempatkan pulang pada jam istirahat untuk menyusui bayi.
  • Jika keduanya tidak memungkinkan, maka ibu harus mempersiapkan ASI perah (ASIP) dan menyimpannya dengan kondisi yang baik sebagai stok ASI saat ibu sedang di kantor.
  • Jika sudah sampai di rumah, usahakan untuk direct breastfeeding (DBF) atau menyusui bayi secara langsung.

Sekarang, sudah banyak merk breast pump yang beredar di pasaran. Mulai dari yang manual hingga elektrik. Dari yang harganya ratusan ribu hingga yang jutaan. Breast pump ini dapat membantu ibu untuk memerah ASI selain menggunakan tangan (marmet). Metode pemerahan ASI ini tergantung dari kenyamanan ibu.

Produksi ASI itu sesuai kebutuhan. Produced by demand. Jika ASI dikeluarkan maka otak akan menangkap sinyal payudara sudah ‘kosong’ dan akan memproduksi ASI lagi. Semakin sering ASI dikeluarkan (baik itu disusui langsung pada bayi atau diperah), akan semakin sering dan banyak juga ASI yang diproduksi. Jadi, ibu bekerja pun tetap akan bisa mengASIhi eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan (lulus S1 ASIX), 1 tahun (lulus S2 ASI) dan 2 tahun (lulus S3 ASI).

Stok ASI Perah (via kiwimaternity.com)

 

MENGASIHI CEGAH STUNTING SEDARI DINI

MengASIhi bagi ibu dan bayi memiliki manfaat yang sangat banyak. ASI merupakan asupan gizi terbaik untuk anak sampai 6 bulan dan tidak bisa digantikan dengan makanan apapun. Dengan mengASIhi, ikatan batin antara ibu dan anak akan terjalin dengan baik, gizi anak akan cukup terpenuhi, anak terlindungi dari berbagai macam infeksi dan juga termasuk periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan untuk mencegah stunting.

Kitalah ibu-ibu yang menjadi garda terdepan agar anak-anak kita terhindar dari bahaya stunting. Tak lupa dukungan para ayah ASI agar ibu terus dapat mengASIhi hingga lulus S3 ASI. Dukungan dari anggota keluarga lain juga penting, dari nenek ASI, kakek ASI, tante ASI, semuanya deh pokoknya! Semoga kita dapat menjadi keluarga proASI.

Yuk, kita semangat mengASIhi agar anak-anak kita tumbuh kembang dengan baik dan dapat bersama-sama memajukan negeri ini. Indonesia sehat, Indonesia cerdas!

You may also like

4 Comments

    1. Betul mba, jangan sampe, efek jangka panjangnya ngeriiii…
      Saya juga harus bisa nih ngasih ASIX pas Kabay lahir 😀

    1. Iya mba, makanya dampak stunting itu ga hanya jangka pendek, tapi jangka panjang juga di masa depan, ngeri yah
      semoga kita bisa jaga anak kita dari stunting yah, mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *