Menjelang satu tahun pernikahan kami, saya ingin merenungkan kembali makna pernikahan bagi saya pribadi. Bukan hanya sekedar target milestones dalam perjalanan hidup saya (dulu saya menargetkan ingin menikah maksimal usia 25 tahun) atau bahkan hanya next step setelah saya memiliki pekerjaan dan lulus sarjana.

Sejak saya mengutarakan niat saya ingin menikah pada Bapa dan Ibu, kedua orang tua saya berkali-kali menanyakan apakah saya sudah yakin dengan keputusan ini? Sudah yakinkah saya dengan calon pasangan saya? Sudah lurus kah niat saya menikah untuk ibadah?

Setelah hampir satu tahun, ternyata menikah memiliki makna yang lebih dalam dari “Berniatlah menikah untuk ibadah”. Menikah adalah sunnah para Rasul. Menikah juga menyempurnakan setengah agama. Ketika sepasang suami istri sudah saling mencintai karena Allah, Insya Allah mereka akan dipertemukan kembali di surga. Menikah menurut saya adalah ibadah sepanjang masa, selama napas masih berhembus, selama jantung masih berdetak. 

Yang namanya ibadah, sudah pasti memiliki banyak godaan. Iblis dan setan memanfaatkan celah dari mana saja untuk menggoda, menggelincirkan iman, menggoyahkan keyakinan. Karena banyak rintangan inilah jika suami istri saling menguatkan dan mengingatkan, maka akan tercipta sebuah surga dunia di dalam rumah. Belum lagi janji Allah kepada mereka yang menikah dan membangun rumah tangga untuk menggapai ridha-Nya, surga yang kekal selamanya bersama keluarga tercinta.

Menikah bukan hanya tentang kesiapan usia maupun materi. Menikah bukan hanya tentang kesiapan akan tinggal serumah dengan sang pujaan hati. Menikah bukan hanya tentang mengetahui semuanya sampai hal terkecil darinya. Menikah itu tentang kesiapan memberi dan menerima.

Kesiapan memberi yang terbaik dari kita untuk pasangan. Siap memberikan segalanya baik lahir maupun batin, baik tenaga, waktu maupun pikiran. Siap memberikan nasihat dengan cara yang baik jika pasangan kita khilaf. Siap mengajak kepada kebaikan dan mengharap ridha Allah. 

Menikah itu tentang kesiapan menerima hal yang terbaik sampai hal yang terburuk dari pasangan. Siap menerima segala perbedaan dari yang kecil hingga yang besar. Siap menerima keluarga besarnya beserta kebiasaannya. Siap menerima kenyataan jika kepentingan keluarga di atas kepentingan pribadi. Siap menerima untuk menekan sisi egois masing-masing. Siap menerima nasihat dari pasangan. Siap menerima jika ia memang butuh waktu untuk berubah. Siap menerima jika menikah tidak hanya tentang aku dan kamu menjadi kita, tapi akan ada sebuah keluarga yang diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Satu tahun pertama ini adalah tahun awal adaptasi. Ada saatnya saya lelah dan ingin menangis saat kami tidak menemukan titik kompromi. Tapi jika saya ingat satu napas suami saya saat Ijab qabul itu mampu mengguncangkan Arsy Allah, betapa beratnya janji yang ditanggung oleh suami saya kepada Allah. Menggantikan peran Bapa sebagai penanggung dosa saya. Air mata tak pernah bisa saya bendung jika sudah membayangkan pengorbanan suami ini.

Saya, masih jauh dari sosok seorang istri sempurna. Terkadang masih tidak menurut, masih suka mempertanyakan keputusannya dengan nada yang menyebalkan, masih memilih diam saat tidak suka dibanding diskusi, masih suka egois dan kurang memerhatikan keadaannya yang sedang kelelahan sepulang kerja dan masih banyak kekurangan lainnya.

Di sisi lain, semakin hari saya semakin bersyukur Allah menjodohkan kami berdua. Suami saya, dengan tekadnya yang terus memperbaiki diri, mengajak kami untuk terus belajar dan mendekatkan diri pada-Nya. Banyak perubahan positif semenjak saya mengenalnya sepuluh tahun lalu.

Semoga Allah terus memelihara rasa syukurku hingga beribu purnama ke depan, hingga tangan rentaku mengusap keriput di pipimu, hingga salah satu dari kita tak dapat lagi bertemu, hingga kita berjumpa lagi di surga dengan penuh rindu.

Salam Cinta,
Istrimu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *