Parenting Bukan Hanya Tentang Anak

parenting-bukan-hanya-tentang-anak-honeymoonjournal-dotcom

Semenjak tahu Kabay sudah menghuni rahim saya (Hai, Kabay sayaaang….), obrolan sehari-hari dengan Kangmas ga jauh-jauh dari seputar kehamilan. Mulai dari membaca review aplikasi hamil yang kece di smartphone, perkembangan janin dari minggu ke minggu, kesehatan ibu hamil, amalan ibadah ibu hamil sampai bingung tentang panggilan. Mau ayah-bunda? Atau bapak-ibu? Saya juga ga pernah absen setiap hari cerita tentang yang rasakan di hari itu kepada Kangmas. Namanya juga pengalaman hamil pertama yah, serba excited, hihihi…

Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah quote yang kurang lebih berkata seperti ini, “Semua anak terlahir hebat. Kitalah orang tuanya yang harus memantaskan diri, agar layak mendampingi.” Sejenak saya merenung. Beberapa bulan dari sekarang, insya Allah Kabay akan lahir ke dunia dan itu artinya saya dan Kangmas akan mendapat gelar baru: orang tua.

Seketika saya merasa tua 😂. Baru saja kami status kami “dicoret” di kartu keluarga sebagai anak dan berubah menjadi suami dan istri, dalam waktu yang tidak terlampau jauh di kartu keluarga kami sendiri akan menambah satu anggota keluarga lagi dengan status anak sendiri. What a progress!

Menjadi orang tua bukanlah hal yang main-main. Ini adalah rezeki sekaligus amanah bagi kami. Allah sendiri berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Dibutuhkan ilmu dan iman yang kuat untuk menjadi orang tua yang dapat mendidik dan melindungi anak-anaknya.

MEMBICARAKAN PARENTING

Emak-emak zaman now pasti ga bakalan bisa jauh dari media sosial, terutama instagram. Saya pun termasuk (calon) emak milenial dooong… Untung teman-teman di medsos saya kebanyakan suka sharing akun-akun tentang kehidupan rumah tangga, newly parents, dan parenting. Jadi jarang di explore saya yang ngomongin gossip, uupss!

Nah, ada beberapa akun IG yang saya ikuti membahas tentang parenting. Banyak tips dan trik parenting yang saya tahu dari IG, misalnya menghadapi anak tantrum, menstimulus motorik anak sampai toilet training dengan ilustrasi dan infografis yang menarik. Biasanya, habis scroll feed IG tentang parenting ini, saya mendiskusikannya dengan Kangmas. Terus mulai berimajinasi kalau Kabay sudah lahir, bisa ini-itu, melakukan ini-itu, sambil senyam-senyum gemes berdua.

Sebelum menikah, sebenarnya saya mulai tertarik ke dunia parenting karena ibu saya sendiri adalah seorang guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Ibu yang sudah berkecimpung di dunia anak lebih dari 25 tahun menjadi partner diskusi saya tentang pengasuhan anak sampai saat ini. Kalau ada info tentang parenting yang baru saya baca, saya pasti membahasnya dengan beliau. Dari diskusi inilah Ibu sering memberikan saran tentang parenting untuk saya terapkan kepada Kabay setelah Kabay lahir.

PARENTING UNTUK GENERASI ALFA YANG BAHAGIA

Generasi Y seperti saya dan Kangmas akan melahirkan anak-anak generasi alfa. Siapakah generasi alfa itu? Mereka adalah generasi yang lahir setelah tahun 2010. Ciri khas generasi alfa ini adalah keakraban dengan teknologi. Nah, teknologi ini memiliki dua sisi koin. Jika dimanfaatkan secara positif, maka akan menghasilkan dampak yang positif juga. Namun sayangnya, yang sering di-blow up ke permukaan adalah sisi negatifnya.

generasi-alfa-parenting-bukan-hanya-tentang-anak-honeymoonjournal-dotcomIlustrasi Generasi Alfa (Pict from Pinterest)

Trend-trend kekinian banyak diikuti oleh anak-anak. Sebut saja trend #kikichallenge yang sedang hits. Jika tidak disikapi dengan bijak, maka anaklah yang akan menjadi korban teknologi yang semakin cepat ini. Pastinya, pola pengasuhan orang tua secara langsung menjadi filter dan garda terdepan anak-anak demi menjadi generasi alfa yang positif.

Kalau lihat dampak-dampak negatif teknologi, hiiiii bikin mengelus dada. Hal ini juga yang menjadi kekhawatiran kami berdua, apakah bisa kami menuntun anak-anak kami menjadi insan yang soleh-solehah sekaligus siap menghadapi masa depannya? Metode parenting apa yang nanti akan kami terapkan kepada anak-anak? 

Pola asuh yang diterapkan di keluarga saya dan Kangmas cenderung berbeda. Ini jadi tantangan tersendiri untuk kami berdua bagaimana caranya untuk mix and match pembiasaan yang sudah tertanam di diri kami masing-masing. Visi kami adalah mendidik generasi penuh cinta, cinta Islam dan dapat berkumpul lagi di surga. 

Sudah banyak buku yang membahas tentang parenting ini. Nah, kebetulan banget nih, seorang blogger parenting Indonesia, Mba Nabilla, baru saja mereview sebuah buku parenting yang recommended. Judulnya adalah The Danish Way of ParentingMetode parenting Denmark ini menitikberatkan pada pola pengasuhan yang bahagia. Kenapa harus bahagia? Karena anak-anak yang bahagia akan menjadi pribadi dewasa yang lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi masa depannya, dan nanti juga akan mencetak generasi-generasi yang bahagia. Jadi semacam lingkaran malaikat (kebalikannya lingkaran setan) gitu yah… 

buku-parenting-bukan-hanya-tentang-anak-honeymoonjournal-dotcomhttps://www.instagram.com/nabilladp/

Kenapa Denmark? Denmark tidak pernah absen masuk menjadi negara paling bahagia di dunia. Padahal Denmark termasuk negara paling kecil, berada di belahan Eropa Utara. Jadi kebayang dong, dinginnya seperti apa. Meskipun begitu, Denmark menjadi negara dengan iklim bisnis terbaik di dunia. Tidak hanya itu, Denmark sempat menjadi tempat yang paling menyenangkan di dunia dari standar kesehatan, kesehatan dan kesejahteraan. Kok bisa, yah? Alasannya seperti yang sudah saya tulis di atas: pola pengasuhan bahagia. Metode parenting yang tepat memberikan efek domino positif hingga ke skala negara. Seperti prakata yang disampaikan Ayah Edy, guru parenting Indonesia, di buku ini: membangun Indonesia yang kuat dan mulia mulai dari keluarga.

Buku ini juga mengajak kita, para orang tua, untuk mengenal diri sendiri dulu, menjadi bahagia, lalu mengasuh anak-anak dengan bahagia. Jadi pengen punya bukunyaaa…

Ngomongin bahagia terus nih  dari tadi. Oh iya, dong! Siapa coba yang ga pengen bahagia, apa lagi bahagia dunia akhirat bersama keluarga? Kebahagiaan anak jadi kebahagiaan orang tua juga. Diri sendiri bahagia, menjadi orang tua bahagia, mendidik anak bahagia, mencetak generasi bahagia, semuanya bahagia! Yeay!

Parenting bukan hanya tentang anak, tapi juga tentang seni menjadi orang tua. Sebelum Kabay lahir, saya dan Kangmas harus terus belajar agar siap menjadi orang tua yang baik dan penuh cinta. Mengasuh anak harus menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan. Semoga bisa punya buku The Danish Way of Parenting, jadi ilmu dari buku ini bisa kami terapkan kepada anak-anak kami dan bisa kami sharing kepada teman-teman semua 😄

Semangat mencetak generasi bahagia dan siap menghadapi dunia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *