Ramadhan 1439 H di tahun 2018 ini merupakan tahun pertama saya berpuasa sebagai seorang istri dan calon ibu. Cieee, tahun pertama harus ngebangunin suami buat sahur dan nyiapin buka, cieeee…

Rasanya gimana puasa saat hamil? Rasanya nano-nano, deh! Apa lagi usia kandungan masih di trimester awal, memasuki 12 minggu. Bayangan all-day-sickness masih mencekam! Masih bingung gimana caranya mengatasi mual nanti. Energi juga otomatis akan lebih terkuras karena selama puasa saya masih bekerja 8.00 – 16.30 sedangkan waktu makan dibatasi. Belum lagi ada rasa khawatir berat badan belum naik-naik. Kan, jadi cemas… Untung selalu ada pelukan menenangkan Kangmas~

Islam memberikan rukhsah (keringanan) bagi ibu hamil dan menyusui saat berpuasa. Jika ibu hamil atau menyusui tidak kuat puasa, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa tapi diganti di lain hari setelah Ramadhan (qadha atau fidyah). Keringanan ini bahkan disebut sedekah dari Allah sebagai tanda kasih sayang-Nya kepada ibu-ibu hamil dan menyusui. Masya Allah…

tabel-qadha-dan-fidyah-pengalaman-pertama-puasa-saat-hamil-honeymoonjournal-dotcom__1533654855_180.244.234.254
Tabel Qadha dan Fidyah Puasa

Nah, beberapa hari sebelum Ramadhan tiba, saya berdiskusi dengan Kangmas tentang keadaan saya untuk berpuasa.

👩🏻: “Mas, sebentar lagi Ramadhan. Aku sebenernya pengen ikut puasa…”
🧑: “Boleh puasa, tapi Mas ga maksain kamu harus puasa yah… Kalau ada yang dirasa, lemes banget, muntah atau gimana-gimana, kamu harus buka. Kalau dirasa sanggup, lebih baik puasa. Toh nanti sama aja kan, harus bayar beres Ramadhan.”
👩🏻: “Nah itu dia Mas, puasa qadha teh lebih berat soalnya yang lain ga puasa tapi kita puasa sendiri, hehehe…”
🧑: “Berdoa sama Allah minta kamu sama Kabay dikuatin supaya bisa puasa.”

Lalu diskusi ini ditutup dengan Mas mengecup kening saya *yang belum nikah ga boleh baper*

Kontrol ke Dokter Kandungan

Dua hari sebelum hari pertama puasa, saya dan Kangmas kontrol rutin ke dokter kandungan sambil menanyakan saran tentang puasa. Alhamdulillah, keadaan Kabay sehat dan bahkan sempet loncat-loncat. Iiih, gemesiiiin! Sehat terus yah, Nak :*. Sebenarnya, dokter tidak menyarankan saya berpuasa karena masih di trimester awal. Tapi saya masih memberi alasan, “Bu, tapi saya pengen nyoba puasa” dengan mata berkaca-kaca. Saya memang agak bandel. Jangan ditiru yaah 😛

Akhirnya, Bu Dokter memberikan saran agar tidak memaksakan diri. Jika terasa lemas, badan menggigil dan muntah, saya harus buka puasa. Yang penting, asupan nutrisi tetap terjaga. Siap, Bu Dokter!

Eng ing eng! Dimulailah puasa (penuh drama) ini!

Hari-hari pertama saya lalui dengan berbagai percobaan cara mengatasi mual saat makanan masuk ke dalam tenggorokan. Bumil-bumil pasti hafal deh ya, rasanya mual-mual yang terus mendorong ulu hati. Rasa mual sampai muntah tapi makanan harus tetap masuk supaya Kabay tetap terjaga asupan nutrisinya itu indaaah banget! Saya juga sempat beberapa hari ga mau makan nasi karena eneg. Nah looh, bingung kan? Orang serumah sampai bingung gimana caranya biar saya terus terjaga makannya. Belum lagi kegalauan hati timbangan berat badan saya menunjukkan jarum yang terus mengarah ke kiri alias turun berat badan. Bikin sedih, huhuhu…

Kegalauan Puasa Saat Hamil

Puncaknya suatu hari tangis saya pecah tiba-tiba saat saya dan Kangmas mau solat tarawih. Ada kayaknya setengah jam saya menangis sambil diusap-usap punggung sama Kangmas. Sedih karena saya kepikiran tentang hasil share status di timeline facebook bahwa jika ibu hamil tidak mengambil rukhsah itu sama saja dengan sombong kepada Allah (asli, ini bikin sedih banget!), khawatir keadaan Kabay karena beberapa kali saya muntah sehabis buka dan berat badan yang turun. Kangmas sampai heran karena tiba-tiba saya menghambur pada dirinya, yang sedang duduk di tempat tidur, sambil nangis pakai mukena.

Saat Kangmas nanya ada apa, saya jawab sambil sesegukan dan menutup mata. Karena ga jelas saya ngomong apa, akhirnya Kangmas bilang, “Maaf sayang, Mas ga ngerti kamu ngomong apa. Silakan diberesin dulu nangisnya sampai beres, ya…” sambil terus ngusap-ngusap punggung. Duuuh, lope-lope banget deh, Kangmasku!

Setelah saya puas dan bisa mengontrol tangisan, saya keluarkan semua unek-unek dan rasa galau di hati. Kangmas pun memberikan masukan yang intinya adalah kita usahakan yang terbaik dan serahkan hasilnya pada Allah. Saya berusaha agar tetap menjaga nutrisi untuk Kabay dan diri sendiri, Kangmas juga berusaha agar bisa terus support makanan halal dan bergizi untuk kami berdua. Kangmas sangat kagum pada ibu-ibu hamil yang masih bisa berpuasa karena tantangannya lebih berat dari pada laki-laki. Insya Allah, Allah menguatkan saya dan Kabay. Ridha dan doa suami itu sangat penting untuk saya.

Setelah drama menjelang tarawih selesai, akhirnya kami solat berdua di rumah karena sudah hampir jam 8, hihihi…

Nah, berikut tips puasa saat hamil versi saya. Semoga bermanfaat!

1. Berdoa kepada Allah, Sang Pemilik Badan Kita

Hal yang pertama dan terpenting adalah berdoa kepada Allah untuk selalu memberikan kekuatan, kesehatan dan keselamatan untuk kita dan janin. Apa lagi bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Insya Allah, jika Allah mengizinkan dan meridhai, kita dan janin akan kuat berpuasa.

 

2. Berkomunikasi dengan janin

berkomunikasi-dengan-janin-pengalaman-pertama-puasa-saat-hamil-honeymoonjournal-dotcom
(pict by quora.com)

Setiap sahur selesai dan membaca niat puasa, saya selalu mengusap perut dan berkata kepada Kabay, “Kabay, hari ini kita puasa yaah… Semoga Allah memberi kekuatan dan kesehatan untuk kita berdua. Semoga Kabay jadi anak yang soleh, solehah ya, sayang…”

Juga saat berbuka, “Alhamdulillah, puasa kita hari ini beres. Terima kasih sayang udah mau bekerja sama hari ini…” Kangmas pun selalu mengelus perut saya sambil bilang, “Kabay dan Mbun hari ini hebat!”

Saya percaya, apa yang kita (sebagai ibu) ucapkan akan sampai pada janin, baik melalui batin maupun fisik. Karena itu, saya dan Kangmas berusaha agar selalu berpikir positif dan mengatakan hal yang baik-baik kepada Kabay.

 

3. Jaga asupan nutrisi meskipun jam makan mengalami pergeseran

Ini penting juga, nih! Asupan nutrisi harus tetap terjaga meskipun jam makan bergeser dan terbatas di malam dan dini hari. Makanan harus tetap yang bergizi.

Oh iya, kalau bisa, bikin saja susu kurma. Mudah, murah dan praktis ko buatnya. Kalau saya hanya bertahan sekitar 1 minggu saja karena rasa malas lebih mendominasi, hihihi… Jangan ditiru yaah…

Tetap rutin minum vitamin kehamilan. Untuk saya, vitamin yang diminum adalah suplemen vitamin B9 (asam folat) dan kalsium yang diminum sehabis makan sebelum tidur. Ini jangan sampai lupa! Karena kadang saya suka males makan malem (entah keburu ngantuk atau mual mendera), asupan vitamin yang paling besar ya dari suplemen tambahan ini. Pokoknya, kita harus tetap bisa nutrisi untuk kita dan janin tetap terpenuhi.

 

4. Kenali dan bersahabat dengan rasa mualmu

mual-pengalaman-pertama-puasa-saat-hamil-honeymoonjournal-dotcom copy

“Rasa mual ko jadi sahabat?” Eitsss, jangan salah~ Rasa mual sudah menjadi sahabat yang setia menemani 70% ibu hamil di trimester awal. Naah, saat puasa, rasa mual tentu semakin jadi momok yang menakutkan karena dapat mengganggu puasa kita. Jadi, kenali dengan baik pemicu rasa mual kita.

Kalau saya, rasa mual akan mulai mendera saat menyikat gigi, minum air dingin dan kedinginan. Kalau mual udah muncul, pengennya dimuntahin aja, deh! Kalau udah jam buka sih gpapa, tapi kalau saat puasa kan jadi galau, hiks… So, gimana caranya menyiasati si mual ini?

Setelah beberapa hari percobaan, akhirnya saya menemukan trik yang tepat. Pertama, saat buka saya harus minum segelas air hangat dan diam sebentar. Setelah dirasa tidak ada tanda-tanda mual akan datang, baru saya makan takjil. Kedua, saat sahur saya tidak langsung makan. Setelah melaksanakan solat sunat, saya minum air hangat dan menyikat gigi. Setelah sikat gigi selesai, langsung saat itu juga rasa mual melanda dan pasti muntah. Tapi kan gapapa muntah juga, yang keluar hanya air, hehehe… Baru deh, setelah puas ‘oeek’, saya bisa makan sahur dengan tenang tanpa takut keluar lagi. Ketiga, berhubung saya kerja di laboratorium yang membutuhkan suhu stabil di bawah 25 derajat celcius, saya selalu memakai jaket di balik jas lab dan siap sedia aromatherapy. Kalau si mual mulai bandel, saya langsung mengusapkan aromatherapy ke bagian dada dan perut. Mual kabur, badan jadi hangat, deh…

 

5. Jika tidak mau nasi, ganti alternatif karbohidrat lain (say no to mie instant!)

Saya sempat beberapa hari ga mau makan nasi. Bawaannya mual. Terus saya mikir, ga boleh gini terus. Gimana asupan karbohidrat buat saya dan Kabay? Setelah baca artikel ini-itu, ternyata sumber karbohidrat dari nasi bisa diganti dengan gandum (oat), kentang, ubi dan pasta. Yowesslah, saya coba. Yang lumayan bertahan beberapa hari sih cuma pasta, karena lauk dan sayur menurut saya ga cocok disanding dengan gandum atau kentang, hehehe… Ogah nasi ini ga lama sih, cuma seminggu saja.

 

6. Istirahat yang cukup

Waktu istirahat jangan dianggap sepele untuk ibu hamil. Memang sih, rasanya sayang kalau Ramadhan tidak dimanfaatkan secara optimal untuk beribadah. Tapi, kebutuhan ibu hamil memang istimewa. Usahakan tidur tidak lebih dari jam 10 malam. Hal ini untuk menjaga stamina dan metabolisme kita.

 

7. Ingat kemampuan, jangan memaksakan diri

Setelah melakukan usaha segala macam, semuanya kembali lagi pada izin Allah dan kemampuan tubuh kita. Kenali tanda-tanda tubuh kita. Kata bu dokter juga, kalau udah kerasa lemes, gemeteran dan muntah, tandanya kita harus buka. Ayoo, nurut kata bu dokter!

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini saya bocor hanya sehari. Saat itu entah kenapa saya merasa lemessss bangettttt. Padahal masih jam 9 pagi. Bawaannya pengen tiduran tapi ga bisa soalnya saya lagi di kantor. Akhirnya, saya cuma bisa melipat tangan di depan komputer. Eh, ga beberapa lama saya ngerasa sesak! Lalu, saya keluar ruangan dan mencoba ngobrol sama teman untuk mendistraksi. Lumayan ampuh sih. Tiba-tiba, perut saya kerasa sakit banget! Kerasa ‘ckit-ckit’ kayak yang diperas. Kebetulan senior saya lewat dan menanyakan keadaan saya yang sedang kesakitan itu. Atas saran senior, supervisor dan khawatir sama keadaan saya juga Kabay, akhirnya saya buka deh jam 11 siang. Sayang siiih… Tapi demi kesehatan kami berdua, segelas energen dan 3 butir kurma (dari supervisor) membatalkan puasa saya.

Begitulah pengalaman puasa pertama jadi seorang istri sekaligus seorang calon ibu. Mungkin tahun depan ceritanya beda lagi. Insya Allah Ramadhan tahun depan jadi busui 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *