Review Kontrol Kehamilan di RSUD Kota Bogor

review kontrol kehamilan di RSUD Kota Bogor

Kontrol kehamilan merupakan hal yang wajib dilakukan setiap bulan bagi ibu hamil untuk mengetahui kondisi kesehatan sang (calon) ibu maupun janin. Kontrol kehamilan bisa dilakukan di bidan, puskesmas ataupun rumah sakit. Tergantung kebijakan dan pertimbangan keluarga masing-masing.

Saat saya sudah tahu kalau saya hamil, mulai deh saya bergerilya mencari review SpOG yang Te O Pe beserta tempat prakteknya. Mulai dari bertanya ke grup Mahmud alumni angkatan SMA saya sampai gugling ke forum-forum buibu.

Oh iya, ada beberapa syarat dokter SpOG dan RS versi kami:

  1. Harus Perempuan
  2. Tempat prakteknya dicover oleh asuransi dari perusahaan Kangmas
  3. RS dapat dijangkau dari rumah dalam waktu 15 menit (in case untuk lahiran)
  4. Kalau memungkinan, jadwal praktek bersahabat dengan jadwal kami sebagai daily worker, terutama Kangmas yang waktu tempuh perjalanan kantor-rumah itu kurang lebih 2 jam.

Sebenarnya, ada satu dokter yang ingin sekali saya kunjungi karena merupakan favorit buibu. Katanya sih enak saat menjelaskan, kata-katanya menenangkan dan yang penting pro normal. Saat mencari di mana beliau praktek, eeeh daftar antriannya di salah satu RS yang lumayan terkenal di sini panjang booo! Sampai harus booking H-seminggu. Kalau di RS satunya lagi antriannya ga sepanjang di RS sebelah. Paling hanya harus booking via telepon H-2. Tapi, jadwal beliau ga bersahabat (jadwal tanggung jam 10an pagi) dan RSnya belum bekerja sama dengan asuransi. Yaaah, ga jadi deh diperiksa sama beliau.

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya pilihan kami jatuh pada RSUD Kota Bogor. Saat saya browsing tentang review kontrol hamil di sini, ternyata belum ada yang menulis reviewnya. Oke deh, saya coba aja kontrol di RSUD Kota Bogor sekalian jadi bahan blog, hihihi…

KESAN PERTAMA REVIEW KEHAMILAN DI RSUD KOTA BOGOR

Kesan saat pertama kali mendengar RSUD Kota Bogor, yang terbersit di otak saya adalah rumah sakitnya peserta BPJS. Karena ada kata BPJS, mungkin kebanyakan dari kita agak meng-underestimate untuk kontrol kehamilan di sini. Denger kata BPJS tuh aduuuh, yang kebayang adalah ribet ngurusnya. But, I’ll say thank you to BPJS later.

Teman-teman saya baru satu orang yang saya tahu pernah kontrol hamil di RSUD Kota Bogor. Yang lainnya rerata memilih kontrol di RS swasta atau di bidan dekat rumah dibandingkan di RS pemerintah. Ya saya pun awalnya begitu. Karena beberapa hal di atas, jadi deh kontrol di sini.

Pertama kali saya kontrol di RSUD itu hari Sabtu. Wuiiih, bener doong banyak peserta BPJS yang sedang menunggu nomornya dipanggil. Dan ruang tunggunya itu penuh banget. Tapi kalau sekarang sepertinya antrian BPJS sudah berkurang karena RSUD Kota Bogor masuk ke RS tipe B. Artinya, faskes 1 tidak bisa langsung merujuk ke sini, tapi harus merujuk ke RS tipe C dulu.

Awalnya saya kontrol dengan dr. Elly Gustom. Tapi karena satu dan lain hal, saya beralih ke dr. Astry Susanti meskipun jadwal beliau di hari kerja.

*******

Selama kontrol hamil Kabay, ada beberapa sisi positif yang saya rasakan dari RSUD Kota Bogor:

1.Harga relatif lebih murah dari rumah sakit swasta

Biaya dokter sebesar Rp82.000, USG 2D (no print) 50.000, USG+print out 120.000. Jadi biaya untuk sekali kontrol kehamilan di RSUD Kota Bogor sebesar 132.000 – 202.000 di luar obat. Karena baru pertama kali hamil, saya selalu mencetak hasil USG sebagai dokumentasi setiap bulannya.

2. Ruang registrasi, ruang tunggu dan ruang periksa kandungan terpisah dari ruang tunggu umum

Di beberapa bulan awal, kita harus melewati ruang tunggu umum sebelum menuju poli kandungan. Ibu hamil yang kondisinya sedang rentan harus bertemu dengan berbagai macam orang kan agak gimanaa gitu yah, agak riskan kalau harus bercampur dengan banyak kuman dan virus dari orang sakit lainnya. Untungnya, sekarang poli kandungan sudah berbeda gedung dan berada di gedung baru dekat pintu besuk. Jadi udah ga takut lagi terkontaminasi dengan pasien lain.

3. Tersedia masjid yang cukup luas

Beberapa RS yang pernah saya kunjungi hanya menyediakan area seadanya untuk mushola. Bahkan tempat sholat untuk wanita bisa dibilang sempit sehingga jika waktu sholat tiba harus mengantri. RSUD Kota Bogor memiliki masjid sendiri yang cukup luas sehingga kita bisa sholat dengan nyaman tanpa harus mengantri. Meskipun jaraknya agak  jauh karena di area parkir motor.

4. Pembayaran di-cover asuransi perusahaan

Ini nih yang penting, hihihi… Selama kontrol kehamilan, Alhamdulillah asuransi dari perusahaan Kangmas bekerja bisa meng-cover semua pembayaran, termasuk vitamin. Lumayan kan, uang bulanan bisa buat beli baju Kabay.

5. Tersedia ATM dari beberapa bank

Seingat saya, di gerbang masuk RSUD terdapat gerai ATM dari bank Mandiri, BCA, BRI dan BNI.

6. Area parkir luas

Sama kasusnya dengan ketersediaan masjid, beberapa RS hanya memiliki area parkir yang sempit. RSUD Kota Bogor memiliki area parkir yang sangat luas yang berada di area depan, baik untuk motor ataupun mobil. Jadi, para biker (yang bawa motor, termasuk saya dan Kangmas) tidak merasa dianaktirikan karena area parkir motornya cukup luas.

Tapi RSUD Kota Bogor juga memiliki keterbatasan:

1.Sistem registrasi yang masih manual

Di saat RS lain sudah bisa booking via telepon, WA dan bahkan aplikasi, sayangnya registrasi di RSUD Kota Bogor masih manual. Kita harus datang terlebih dahulu ke resepsionis pertama, bilang mau ke dokter siapa, BPJS atau umum dan menunggu nomornya dipanggil. Setelah itu ke resepsionis poliklinik untuk mendapatkan nomor urut dokter di poli masing-masing. Biasanya sih kalau saya ambil nomor antrian dulu siang, setelah itu saya pulang dulu. Lalu saat pulang kantor langsung meluncur ke poli kandungan.

Untuk poli kandungan, sekarang kalau sudah mendapatkan nomor antrian di resepsionis pertama bisa langsung ke poli kandungan untuk mendapatkan nomor urut dokter tanpa harus menunggu. Sebuah perbaikan yang sangat baik saya rasa. Good job!

2. Susah sinyal!

Untuk emak-emak milenials, sinyal merupakan sebuah kebutuhan yang haqiqi yang tydac bole terganggu. Nah, sinyal di sini itu syusyaaaah kalau sudah masuk ke bagian poli.

Baiqla. Sepertinya mamak harus bersosialisasi ngobrol ke ibu-ibu sebelah supaya ga mati gaya. Tapi saya masih termasuk manusia yang lebih baik menatap layar dibandingkan ngajak ngobrol, hahaha…

3. Jadwal dokter yang sering telat

Ga hanya di sini sih sebenernya. Di RS lain pun dokternya suka telat. Whyyyy? Jadilah saya harus nunggu kurang lebih 1-2 jam padahal saya sudah datang sesuai jadwal dan mendapatkan nomor urut awal. Bahkan pernah belum waktu prakteknya selesai, dokternya sudah pulang karena sudah ga ada pasien lagi. Jadinya saya harus kontrol ke RS yang lebih jauh, huhuhu…

4. Tidak tersedia jadwal dokter di website

Ini juga termasuk hal yang harus diperbaiki dari RSUD Kota Bogor. Menu jadwal dokter sih ada. Tapi pas diklik isinya kosong melompong. Jadi, kalau mau tahu jadwal dokter harus datang langsung ke sana untuk mengambil kertas jadwal. Di zaman yang serba digital ini kan seharusnya lebih bisa memanfaatkan website karena orang lebih memilih melihat di internet dari pada pergi ke sana atau telepon ke CS.

5. Poli kandungan agak jauh di belakang

Dari area parkir motor menuju ke poli kandungan jaraknya agak jauh. Jadi, untuk bumil yang lagi hamil besar, harap bersabar yaaah bawa perut yang semakin berat. Kalau bawa mobil atau pakai gocar/grabcar, masih bisa sih turun di pintu masuk besuk.

Nah, mungkin review ini bisa jadi pertimbangan buibu untuk tempat kontrol kehamilan ananda tercinta. Semoga membantu 😀

Kabay’s Journal:

You may also like

3 Comments

  1. Waaahh saya jadi bersyukur banget mba, saya dulu juga melahirkan di RS pemerintah, karena ikut dokternya yang praktek di situ.

    Tapi saya pakai dokter cowok huhuhu, ya gimana lagi pak suami sreg ama tuh dokter, untung ga ada adegan malu2in hahaha

    Melahirkan juga sesar jadi ga terlalu ekstrim malu2innya wkwkwk

    Di RS temoat saya lahiran kemaren sistemnya udah online, jadi masalah antri bisa disiasati hehehe

    1. maaf mbarey, baru bales komennya, huhuhu…
      wuih enak banget RS pemerintah di tempat mbarey udah online, di saya mah belum, jadi harus manual
      semoga nanti anak kedua udah bisa online juga
      *anak baru 7 bulan udah ngomongin anak kedua aja, hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *