Tumbuhkan Minat Baca Anak Generasi Alfa Bersama Let’s Read

tumbuhkan minat baca anak generasi alfa dengan let's read

“Mas, aku pengen punya mini library kalau udah punya anak, ya…”

Ini salah satu keinginan saya dari dulu sebelum saya menikah dengan Kangmas. Saya bahkan sempet men-tag Kangmas di satu postingan facebook yang berisi tentang foto-foto lemari buku dengan model lucu-lucu untuk di rumah. Mupeeeeng, pengen punya satuuu aja lemari lucu kayak gitu, hehehe… Dulu tuh yang terbayang adalah saya sedang membacakan buku untuk anak-anak sambil bercanda, ketawa-tawa, lalu mereka berebut minta dibacakan buku dengan antusias. Wow, how lovely it is~

Keinginan saya ini tentunya bukan asal kepingin saja. Saya termasuk pecinta buku! Walaupun belum kesampean punya mini library sendiri, saya punya satu lemari kaca khusus komik dan novel. Isinya bahkan lebih dari dua ratus komik! Hihihi, maklum saya penggemar komik Jepang dari SMP dan hobi beli tankoubon alias jilid cetaknya. Saya belum sampai seperti Mbak Najwa Shihab sih yang rak bukunya memanjang dari ruang keluarga hingga tempat kerja. Cita-cita saya juga itu kalau udah punya rumah tinggal sendiri: bikin ruangan khusus baca yang asyik! 

Nah, kecintaan saya terhadap membaca ini ingin saya turunkan kepada anak-anak saya. Berhubung anak saya baru satu, yaitu Kabay, saya berusaha untuk memupuk hobi membaca ini sedari dini. Bahkan dari sebelum dia lahir loh! Semoga nanti bisa istiqamah untuk adik-adiknya. 

AKTIVITAS LITERASI MEMBACA DI INDONESIA

 

 

Saya suka sedih kalau membaca berita yang isinya kalau minat baca di Indonesia itu rendah 🙁 Bahkan tertulis jika peringkat literasi negara kita itu peringkat 60 dari 61. Aduuuh, bikin ngelus dada nggak sih, ini? 

 

Ini ada data peringkat dari Kemendikbud tentang Aktivitas Literasi Membaca alias Alibaca tahun 2019 untuk 34 provinsi di Indonesia.

 

Indeks Alibaca menunjukkan hanya 9 provinsi yang masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi berkategori rendah dan 1 provinsi termasuk sangat rendah. Rata-rata indeks Alibaca nasional berada di titik 37.32% yang tergolong rendah.

 

 

Tapi berdasarkan pengalaman teman-teman saya di salah satu komunitas pejuang literasi, minat baca anak-anak Indonesia itu tinggi, loh! Permintaan pengiriman buku untuk perpustakaan di daerah-daerah bahkan selalu memenuhi daftar antrian sampai harus dibikin sistem kuota takut yang lain nggak kebagian. Lalu saat kerja sama dengan CSR salah satu perusahaan untuk bikin perpustakaan di sebuah daerah, wuiiih, anak-anak seneng banget! Perpustakaannya langsung rame!

Indeks Alibaca Provinsi 2019

DKI Jakarta 58.16%
DI Yogyakarta 56.2%
Kepulauan Riau 54.76%
Kalimantan Timur 46.01%
Bali 44.58%
Kalimantan Utara 42.86%
Kep. Bangka Belitung 41.97%
Banten 40.81%
Sulawesi Utara 40.2%
Jawa Barat 39.47%
Sulawesi Selatan 38.82%
Riau 38.71%
Sumatera Barat 38.57%
Bengkulu 37.41%
Jambi 37.32%
Kalimantan Selatan 37%
Sumatera Selatan 36.06%
Sumatera Utara 35.73%
Gorontalo 34.99%
Sulawesi Tenggara 34.37%
Aceh 34.37%
Kalimantan Tengah 33.86%
NTB 33.64%
Maluku 33.52%
Jawa Tengah 33.5%
Jawa Timur 33.19%
Sulawesi Barat 32.92%
Sulawesi Tengah 31.55%
Maluku Utara 31.33%
Lampung 30.59%
NTT 29.83%
Kalimantan Barat 28.63%
Papua Barat 28.25%
Papua 19.9%

Sumber: Fanpage Facebook Komunitas 1 Juta Buku Untuk Anak-Anak Indonesia

Jadi, apakah sebenarnya faktor-faktor yang memengaruhi minat baca?

FAKTOR AKTIVITAS LITERASI

Berdasarkan pandangan Miller dan McKenna (2016), ada empat faktor yang memengaruhi terjadinya aktivitas literasi. Apa saja?

Profficiency atau kecakapan. Kecakapan di sini maksudnya adalah BISA MEMBACA. Tentu dooong syarat awal dan paling penting literasi itu harus bisa membaca.

Access atau kemudahan akses untuk mencapai sumber daya. Masyarakat dapat memanfaatkan sumber-sumber literasi, seperti perpustakaan dan toko buku.

Alternatives ialah beragamnya pilihan perangkat teknologi informasi dan hiburan. Perkembangan teknologi, terutama internet, tentunya memengaruhi akses membaca yang tadinya hanya tersedia print out book menjadi buku digital dan artikel yang diunggah di internet.

Culture meliputi gagasan, nilai, norma dan makna. Dalam konteks ini adalah membentuk BUDAYA MEMBACA. Ketiga faktor di atas akan berdampak pada budaya membaca.

MEMBACA BERSAMA ANAK ITU ASYIK, LOH!

Empat poin di atas tentunya bisa dilakukan mulai dari keluarga kita sendiri. Untuk kecakapan bisa membaca, Kabay belum masuk ke fase belajar membaca. Wong usianya baru masuk 19 bulan, hihihi… Usia ideal untuk pre-writing skill sekitar 3-4 tahun. Pre-reading skill sendiri di usia 4-5 tahun. Jadi, apakah kita anteng-anteng aja menumbuhkan minat bacanya sembari nunggu Kabay berusia 3 tahun?

Ooooh, tentu tidak, sayaaang~

Ternyata menimbulkan kecintaan anak terhadap membaca bisa dimulai bahkan sebelum dia lahir! Kita bisa mulai mengenalkan buku untuk anak sejak dia masih dalam kandungan.

“Kok bisaaa?”

Menjelang usia kandungan bulan ke enam, janin sudah mulai mengenal suara-suara di dalam rahim. Dia bahkan dapat mendengar suara dari luar tubuh ibunya meskipun dengan frekuensi suara yang lebih rendah. Nah, dari sinilah kita bisa membacakan buku untuknya. Membacanya bukan dalam hati, tapi membaca nyaring. Kalau baca dalam hati nanti dia nggak denger dong, hehehe…

Jadi sebelum belajar membaca, kita bisa MEMPERMUDAH AKSES SUMBER BACAAN untuk anak-anak kita dengan menyediakan buku-buku berkualitas di rumah. Ini pengalaman saya agar Kabay mencintai membaca. Cekidoooot!

MEMBACA NYARING SAAT HAMIL

Saat hamil, pastinya waktu me time saya jauh lebih banyak dibanding waktu sudah punya anak. Ya iyalah, sekarang mau me time makan mie goreng aja harus ngebut sebelum Kabay keburu minta nen, hahaha… Salah satu me time saya Itu adalah membaca buku. Tapi sejujurnya, saya merasa agak aneh kalau membaca buku dengan nyaring sendirian, hehehe… Jadi saya lebih memilih untuk membaca Al-Quran secara nyaring.


Dari sisi Islami pun amat menganjurkan agar ibu hamil rajin membaca Al-Quran agar janin di rahim ikut mendengarkan lantunan ayat suci. Efeknya Alhamdulillah, Kabay sekarang sangat familiar dengan Al-Quran. Pendengarannya pun sensitif jika ada suara orang yang mengaji. Jadi, dari agama pun berpahala, dari minat membaca juga dapat. Double benefit, kaaan?

2

MENGENALKAN BERBAGAI JENIS BUKU

Menjelang kelahiran Kabay, langsung deh saya hunting buku-buku yang cocok berdasarkan usianya. Pastinya yang sesuai budjet di rekening dong, hihihi… Dasar makmak, yeee… Setelah asyik berseluncur di dunia maya selain riset tentang clodi, saya pun akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa buku softbook dan boardbook.

 

“Emangnya jenis-jenis buku itu apa aja, sih?”

 

Sini deh, saya kenalin beberapa jenis buku yang children-friendly alias ramah anak.

📖 SOFT BOOK

Softbook ini adalah jenis buku yang pertama kali saya kenalkan pada Kabay. Bukunya terbuat dari kain lembut dan anti-sobek jadi aman sekalipun untuk bayi yang baru lahir. Serasa bantal gitu deh. Karena terbuat dari kain, jadinya aman untuk digigit-gigit dan diremek-remek oleh tangan kecilnya. Asal bersih aja yaa…

Awalnya sih Kabay nggak begitu tertarik dengan buku ini. Saya coba bacain, dianya ke mana aja ngeliatnya. Yaiyalah, namanya juga orok. Lama-lama akhirnya dia tertarik juga melihat buku ini. Yaaa walaupun ujung-ujungnya digigit juga sekalian jadi teether, tapi seenggaknya dia mulai mengenal buku. Yeay!

📖 CONTRAST BOOK

Contrast book ini sebenarnya adalah board book atau buku yang bahannya lebih tebal dibanding buku biasa. Tapi yang membedakannya dengan board book biasa adalah pilihan warna yang digunakan. Contrast book cenderung hanya menggunakan warna hitam dan putih, atau tambahan warna merah, kuning, hijau. Gambarnya dibuat sesederhana dan sekontras mungkin.

“Kenapa begitu?”

Penglihatan bayi baru lahir masih sangat buram dan baru dapat fokus beberapa sentimeter saja. Bahkan baru warna hitam-putih yang dapat dikenalnya. Jadi, contrast book ini sangat membantu untuk mengembangkan penglihatannya selain mulai menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

Meskipun didesain untuk bayi dari 0 bulan, sampai sekarang Kabay masih suka pengen dibacain buku ini loh! Saya mulai pengenalan tentang anggota keluarga juga dari buku ini.

“Ini dede. Ini Mbun. Ini Abah. Ini Ateu. Ini Om. Kita semua saling menyayangi!” Terus dia tepuk tangan, deh.

📖 BOARD BOOK

Board book bukan berarti bukunya terbuat dari papan, yaa… Disebut board book karena setiap halamannya terbuat dari kertas yang cukup tebal. Hal ini supaya bukunya nggak cepet rusak dan susah untuk dirobek. Namanya juga anak kecil kaan, salah satu hobinya itu nyobekin kertas, hadeuuuh… Nah, board book cocok banget buat bayi hingga toddler. Butuh effort untuk menyobeknya. Jadi, meskipun harganya lebih mahal dibanding buku biasa, awet lah jadi rekening emaknya aman, hihihi… 

Mayoritas buku yang Kabay punya adalah board book. Waktu dia masih bayi banget cara saya membacakan bukunya dengan cara dipegangin. Sekarang mah udah mahir banget dia milih dan ambil buku sendiri, kadang baca sendiri, kadang minta dibacain. Suka gemessss banget kalau ngeliat dia baca buku sendiri. Alhamdulillah…

Fitur board book juga udah macem-macam. Yang saya punya ada fitur flip. Jadi, ada lembar tambahan yang bisa dibuka. Lucu deh, jadi anak serasa di-cilukba-in. Buku flip ini juga kesukaannya Kabay.

📖 SOUND BOOK

Ini buku yang belum ada waktu saya kecil. Jadinya justru saya yang pertama kali excited waktu tahu ada buku jenis ini, hahaha… Sound book itu buku yang dilengkapi dengan tombol-tombol bersuara. Sound book itu sangat interaktif! Selain membaca, kita bisa eksplor lebih dari suara-suara yang ada.

Buku ini jadi favorit Kabay banget! Kabay itu tipe anak auditori sehingga pendengarannya lebih sensitif. Jadi sound book ini sangat membantu untuk menumbuhkan minat bacanya.

Dulu saya, Yabi atau Abahnya yang suka mencetin tombol-tombolnya. Sekarang udah mulai jago dia mencet sendiri. Nanti joged sendiri dia dengen suaranya. Terus heboh sendiri juga.

MENDONGENG DENGAN INTERAKTIF

Kalau kita baca bukunya lempeeeeng aja, dijamin deh anak-anak nggak bakal tertarik. Jadi kita harus heboh bin lebay gitu bacanya. Nggak apa-apa agak teriak juga, bikin ekspresi yang aneh-aneh, yang penting anak seneng. Mendongeng interaktif ini bisa dengan memainkan intonasi dari tulisan. Kalau ceritanya menggambarkan kebahagiaan, kita ikut girang beneran. Kalau kaget, intonasinya pun dibuat kaget. Kalau lagi rajin, bisa juga diselipin lagu-lagu.

Saat membaca buku bareng Kabay, paling seneng tuh dia kalau ada ekspresi-ekspresi gini.

“WOOW!” “Aduuuh!” “Toloooong!” “Horeee!” “Cilukbaaaa!”

Bisa ketawa heboh banget dia. Lama-lama dia mengikuti sesuai intonasi yang kita bacakan waktu baca sendiri. Terus jadi bisa menceritakan isi bukunya meskipun masih pakai bahasa random. 

Bisa juga kita ajak tanya-jawab seputar isi buku.

“Memangnya dia ngerti? Kan masih kecil.”

Oooow, jangan salah, buuu… Meskipun masih kicik, anak itu sesungguhnya cerdas loh! 

“Ini gambar bola, warnanya biru. Eh, lihat, nak! Ada ayam! Gimana suara ayam? Kukuruyuuk!”

Ternyata, kita juga bisa memasukkan nilai-nilai moral kepada anak dengan mendongeng. Metode mendongeng ini ampuh untuk mengajarkan hal-hal positif pada anak. Misalnya ada karakter yang sakit gigi karena tidak gosok gigi sehabis makan manis. Nah, jadi ada bahan deh buat nyuruh rajin gosok gigi. Dicoba, yuk!

Bisa memasukkan nilai positif lewat mendongeng dari buku

MENYIMPAN BUKU DI TEMPAT YANG TERLIHAT DAN MUDAH DIJANGKAU ANAK

Ini trik di keluarga saya agar Kabay mudah mengambil buku kapanpun dia mau. Kebetulan Abahnya suka bebikinan prakarya dari kayu. Pas banget Kabay dibikinin rak buku yang kayak kekinian itu. Hemat di budjet, hihihi… Karena gampang diakses, Kabay jadi sering banget ngambil buku untuk dibaca sendiri ataupun minta dibacakan. Bahkan baru selesai mandi masih handukan kayak gini pun dia udah lari ke rak buku aja, hahaha…

let's read minat baca anak
Ini dia koleksi buku Kabay
Milih bukunya ya nggak pas masih handukan jugaaa 😅

BAWA BUKU KE MANA PUN

Ini trik selanjutnya. Waktu Kabay berusia 8 bulan dan ikut pulang kampung, salah satu sound book-nya saya bawa. Kalau pergi ke rumah Mbahnya, satu bukunya pasti saya selipin di tas. Sebenernya bisa pake buku apa aja sih, tapi saya lebih milih buku yang familier sama dia. Menumbuhkan minat baca pada anak nggak terpaku oleh tempat.

BACA BUKU DI MANAPUN BERSAMA LET'S READ!

logo let's read

Kabay termasuk ke dalam generasi alfa, yaitu generasi yang terlahir di zaman melek teknologi. Tentunya hal ini memiliki tantangan tersendiri. Buaian menonton YouTube dan bermain game di gadget tanpa pengawasan menjadi PR besar untuk saya dan Kangmas sebagai orang tua milenial. Tapi kecanggihan teknologi dalam genggaman ini juga memiliki banyak dampak positif.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, menumbuhkan minat baca anak pun semakin banyak juga caranya. Sekarang jenis buku pun bertambah satu jenis lagi, yaitu BUKU DIGITAL. Jadi, kita tetap bisa membaca buku hanya dengan bermodalkan smartphone dengan gratis. Sekali lagi, GRATIS! Caranya dengan mengunduh aplikasi LET’S READ.

Let’s Read sendiri adalah persembahan komunitas Asia Foundation dari program Books for Asia. Program ini memiliki misi membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini. Let’s Read mengambil peran ALTERNATIF dari 3 faktor yang memengaruhi budaya membaca.

Cerita-cerita di aplikasi Let’s Read dikelola oleh penulis, ilustrator, editor dan penerjemah profesional. Bahkan bekerja sama dengan penulis lokal sehingga membawa kearifan lokal masing-masing, termasuk Indonesia. Tema ceritanya pun sangat beragam, mulai dari menanamkan nilai-nilai toleransi hingga peduli lingkungan. Pokoknya sarat akan nilai-nilai positif.

KENAPA HARUS LET'S READ?

let's read gratis

100% GRATIS!

Ini nih, makmak pasti suka! Aplikasi ini 100% GRATIS dan TANPA IKLAN karena dibuat oleh NGO (Non Profit Organization). Ukuran aplikasinya pun terbilang kecil, hanya 2,9 MB jadi nggak perlu ruang banyak di smartphone. Untuk mulai membaca pun nggak perlu proses sign up atau bikin akun. Jadi tinggal klik, lalu pilih deh mau baca cerita yang mana. Simpel banget, kaaan?

let's read ilustrasi

ILUSTRASI MENARIK

Ilustrasi yang disajikan sangat eye-catching sehingga menarik minat baca anak. Saya sendiri pun betah untuk mengeksplor ceritanya, bahkan kadang saya improvisasi sendiri dari ilustrasinya. Untuk anak-anak yang belum bisa membaca pun jadi bisa menikmati jalan cerita. Kabay seneng banget kalau udah lihat gambar-gambar hewan.

let's read pilihan bahasa

BANYAK PILIHAN BAHASA

Ada 44 bahasa yang bisa dipilih! Wow, amazing! Bahkan bahasa daerah seperti Sunda dan Jawa pun ada. Mau belajar bahasa asing, seperti Inggris atau Tagalog pun bisa. Tapi saya mah cukup Bahasa Indonesia aja dulu, hihihi… Belum bisa baca huruf-huruf yang meringkel-ringkel gitu. Kualitas hasil terjemahannya pun nggak kaleng-kaleng. Enak banget bacanya meskipun bahasa aslinya dari bahasa asing.

ADA 6 LEVEL MEMBACA

Untuk anak yang sudah bisa membaca, ada 6 pilihan level kesulitan membaca. Sebenarnya lebih ke jumlah dan kompleksitas teksnya. Dari level Buku Pertamaku, tingkat 1 hingga tingkat 5. Kalau untuk Kabay, saya pilih level Buku Pertamaku dan tingkat 1 karena lebih sederhana juga jalan ceritanya.

let's read filter label

ADA BERAGAM LABEL

Mau cerita tentang fabel? Ada… Tentang superhero? Ada… Tentang sains juga tersedia. Let’s Read menyediakan 15 pilihan label untuk semua ceritanya. Tinggal kita pilih deh hari ini mau baca cerita tentang apa, yaaa?

let's read download cetak

BISA DIDOWNLOAD UNTUK DIBACA OFFLINE DAN BAHKAN DICETAK

Cerita-cerita di Let’s Read! juga bisa didownload untuk dibaca secara offline. Tandanya itu adalah ada ceklis hijau jika sudah berhasil didownload dan ada di tab Buku Unduhan. Kalau misalnya tetap menerapkan screen time tapi masih ingin baca cerita dari Let’s Read juga bisa dicetak sendiri. Tapi ingat, hanya untuk konsumsi pribadi, ya… Lumayan kan sambil nunggu gajian tiba tapi anak-anak udah minta cerita baru. Aduuuh, Let’s Read! ini sahabatnya makmak banget!

let's read unduh atau cetak

Nah, itu deh alasan terbaik Let’s Read jadi aplikasi yang wajib punya di smartphone kita. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download aplikasi Let’s Read!

So gaes, menumbuhkan minat baca pada anak akan menumbuhkan rasa kecintaan mereka terhadap pengetahuan. Negeri ini masih sangat membutuhkan bibit-bibit yang berkualitas untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dengan memulainya dari rumah dan sedini mungkin, kita ikut membantu membangun Indonesia menuju negara yang unggul dan maju.

SALAM LITERASI!

  1. Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi. 2019. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud RI
  2. https://news.detik.com/berita/d-4371993/benarkah-minat-baca-orang-indonesia-serendah-ini
  3. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/17/indeks-aktivitas-literasi-membaca-alibaca-provinsi-2019
  4. https://reader.letsreadasia.org/
  1. Hasil tangkapan layar aplikasi Let’s Read
  2. Dokumentasi pribadi
  3. Fanpage Facebook Komuntas 1 Juta Buku Untuk Anak-Anak Indonesia
  4. Diolah dan didesain oleh Rania

12 thoughts on “Tumbuhkan Minat Baca Anak Generasi Alfa Bersama Let’s Read”

  1. sedih tingkat literasi rendah
    tapi kalau di jogja memang banyak pojok baca
    di halte trans jogja banyak yang buku

    memang harus sejak dini ya mbak
    biar terlatih hingga dewasa

    1. Waah, bahagianya di jogja, pantes aja dapet julukan Kota Pelajar ya, budaya bacanya tinggi… Pas banget sama indeks alibaca Kota impian buat nanti tinggal di masa tua, hihihi…

      Betul mba, budaya baca harus sedari dini biar waktu dewasa sudah terbiasa dan jadi hobi…

      1. Langsung saya donlod aplikasinya!
        Trims ya mbaa, saya juga lagi butuh banget bacaan ber bahasa Indonesia. Bener-bener krisis bacaan klo uda tinggal di luar Indo begini hiksss..

        1. Masama, mbaa 😀
          Jadi kangen gitu ya liat yang tulisannya Bahasa Indonesia, ga perlu mikir 2x buat baca

  2. Keren, sekarang ada aplikasi untuk bacaan anak-anak sangat membantu apalagi saat bepergian. Cita-cita banget punya perpustakaan mini buat anak nanti, sekarang aja udah hobi beli buku anak-anak. Hehehe… Tinggal nunggu dikasih amanahnya 🙂

    1. Penolong banget biar ga mati gaya waktu traveling
      Beli buku anak udah jadi semacam hobi baru ya mba, banyak ratjoen-nya, hihihi

      Aaamiiin ya Allah, semoga Allah cepet memberikan mba dan suami amanah berupa anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *