Pra Bunda Sayang Batch 6: Wahana 4 – Diving

Ibu Profesional Pra Bunda Sayang Diving

Pra Bunda Sayang – Diving. Kali ini sudah saatnya menyelam ke dalam laut. Byurrr! Yuk, kita lihat keindahan di dasar laut yang penuh dengan ikan yang berwarna-warni dan terumbu karang yang indah. Masya Allah…

Diving jadi salah satu dream list saya sejak bangku sekolah SMK dulu. Bawaannya selalu mupeng kalau lihat video tentang scuba diving. Yang baru kesampean itu snorkeling. Baru sekedar kecipak-kecipuk di atas laut pakai pelampung dan snorkel. Itu pun bukan di Bunaken atau Raja Ampat. Baru nyoba open trip ke Pahawang, Lampung dan Menjangan, Bali waktu gadis dulu, hihihi… Ternyata kalau mau diving beneran itu harus dapet sertifikat diving dulu dari sekolah diving. Yowesslah, udah punya anak gini saya udah ikhlas diving akan jadi penghuni abadi dream list yang nggak akan pernah tercoret.

Di wahana terakhir Pra Bunda Sayang ini, kita diminta untuk menyelami diri sendiri, siapakah diri kita? Seperti apakah kita saat bersama Ibu Profesional? Apa yang akan kita perjuangkan ke depannya? Apa kesamaan kita dengan Ibu Profesional?

Sebelumnya, kita bahas dulu yuk tentang Piramida Ibu Profesional yang jadi gagasan awal Ibu Profesional.

*****

PIRAMIDA IBU PROFESIONAL

Di materi IG Live bersama Mbak Maria Ulfah dari IP Banten sempat membahas tentang Piramida Ibu Profesional. Piramida ini diciptakan oleh Pak Dodik pada tahun 2008 dan menjadi gagasan awal Ibu Profesional oleh Ibu Septi pada tahun 2011.

Piramida ini terdiri dari dua piramida dan mengerucut pada satu titik: AKHLAK MULIA. Piramida atas adalah output yang diharapkan setelah mengikuti Institut Ibu Profesional. Piramida atas terdiri dari empat poin: hebat mengelola keluarga, percaya diri, mampu mendidik dan mengembangkan anak berkualitas, terus menerus mengembangkan diri.

piramida ibu profesional

Piramida bawah adalah yang dapat Ibu Profesional fasilitasi agar piramida atas dapat tercapai. Piramida bawah terdiri dari: jaringan kemandirian perempuan, revitalisasi makna ibu, pengembangan sarana ibu profesional, pendidikan dan pelatihan ibu profesional.

Piramida ini dapat merepresentasikan bahwa ibu profesional itu berawal dari seorang ibu yang menguatkan diri dari dalam keluarganya sehingga dapat memberikan impact ke luar. Ibu profesional tetep memprioritaskan keluarga dan anak-anaknya terlebih dahulu. Dan semua kegiatan di dalam maupun di luar rumah bermuara pada satu misi, yaitu akhlak mulia.

“Bersungguh-sungguh kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik.”

Dodik Mariyanto, Penggagas Ibu Profesional

Agar terjadi keseimbangan kedua piramida ini, perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik ini perlu dibangun terutama dengan support system dan customer utama kita, yaitu suami dan anak agar tidak terjadi kecemburuan saat kita sedang berada di ranah publik. Dalam mengelola ranah domestik pun komunikasi yang baik diperlukan agar terjadi kerja sama yang optimal dengan keluarga. Kedua adalah manajemen waktu. Manajemen waktu adalah salah satu kunci dari keseimbangan piramida ini. Oleh karena itu materi kandang waktu menjadi materi penting di kelas Matrikulasi. Ketiga prioritas aktivitas. Prioritas aktivitas ini memiliki hubungan dengan manajemen waktu. Dengan mengatur skala prioritas, Insya Allah manajemen waktu akan tertata lebih baik karena meminimalisir kegiatan yang kurang bermanfaat.

Sekarang masuk ke proses menyelami diri sendiri.

*****

ME BEFORE IBU PROFESIONAL

bunda sayang wahana diving me before ibu profesional

Sebelum saya mengenal dan masuk ke dalam Institut Ibu Profesional, saya merasakan visi dan misi keluarga itu hanya let it flow. Saya dan Kangmas memang memiliki sebuah visi keluarga, yaitu SEHIDUP SESURGA. Misi keluarga kami adalah menjadi keluarga Islami pecinta Al-Quran, menerapkan gaya hidup yang cukup dan bermanfaat untuk orang lain. Tapi saya pribadi masih membawa ritme keluarga saya yang cenderung mengalir seperti air. 

Lalu, berhubungan dengan status ibu rumah tangga. Saya mungkin terlalu mengagungkan seorang ibu yang bekerja di ranah publik karena ibu saya bekerja sebagai guru. Ibu saya selalu menitikberatkan bahwa kita sebagai wanita pun harus punya penghasilan sendiri. Saya cenderung memandang sebelah mata mereka yang memutuskan hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Zaman sekarang hanya jadi ibu rumah tangga? Helloow~ Ya, pemikiran saya sedangkal ini.

Dulu juga saya belum menentukan dan percaya diri akan potensi bakat saya sendiri. Saya berpikir hanya orang-orang yang berani bicara di depan publik lah yang hebat. Sementara saya lebih suka berada di belakang layar, menulis, tidak suka ada di dalam keramaian. Yes, I’m an introvert. Apa yang bisa dilakukan oleh orang introvert dan tidak suka tampil seperti saya ini?

*****

ME WITH IBU PROFESIONAL

bunda sayang wahana diving me with ibu profesional

Setelah mengikuti kelas matrikulasi, ternyata visi dan misi keluarga sepenting itu. Visi dan misi inilah yang akan menentukan core value keluarga dan menjaga keep on track. Just let it flow itu nggak selalu baik. Apa lagi saya dan Kangmas masih muda belia nan gagah perkasa kayak gini. Masih punya energi untuk melakukan dan mencapai banyak hal. Saya berusaha mendukung Kangmas dengan segala misinya yang Insya Allah akan selalu sesuai syariat Islam.

Status ibu rumah tangga pun berubah di mata saya setelah bergabung di Ibu Profesional. Banyak teman-teman sekelas yang bekerja di ranah domestik tapi produktifnya Masya Allah… Mostly berperan juga sebagai pemilik online shop, ada juga yang aktif di komunitas. Ini membuka mata saya bahwa meskipun seorang ibu rumah tangga tapi tidak membatasi kita untuk berkarya dan bermanfaat untuk orang lain.

Kangmas masih mengizinkan saya untuk berkarya di ranah publik sampai saat ini. Dengan belajar di Institut Ibu Profesional ini, saya berusaha untuk memaksimalkan peran saya sebagai seorang karyawan, istri dan ibu sesuai waktunya. Saya memang masih belum maksimal tapi saya berusaha untuk terus belajar. Ibu yang bekerja baik di ranah publik maupun domestik mempunyai visi yang sama: IBU KEBANGGAAN KELUARGA.

Setelah melalui kelas matrikulasi, ikut komunitas dan mencicipi banyak kegiatan, akhirnya saya menentukan potensi bakat saya di bidang MENULIS. Sampai saat ini fokus saya ada di BLOGGING. Visi saya menjadi bertambah kuat, yaitu menulis untuk menyebarkan manfaat dan amal jariyah. At least satu saja ada orang yang tergerak hatinya melakukan hal positif atau merasakan manfaat karena membaca tulisan saya.

No problem if you’re an introvert. Just be yourself and spread the positive vibes heartfully.

*****

ME AND MY FIGHTING JOURNEY

bunda sayang wahana diving me and my fighting journey

Saya ikut kelas matrikulasi saat hamil Kabay. The world was easier back then when just two of us, me and Kangmas. Ternyata peran baru sebagai seorang ibu menambah tantangan baru pula. Banyak sekali yang berubah, mulai dari manajemen waktu hingga tanggung jawab. Totally different! Saya sempat melupakan ilmu dan materi dari kelas matrikulasi. Saya sempat hilang arah karena merasa terbebani dengan multiperan ini. Kebebasan saya terasa direnggut. Saya kesal. Saya lelah.

Beberapa bulan berjalan dan setelah Kabay berusia setahun, saya belajar berdamai kembali dengan diri sendiri. Saya mencoba menerima peran-peran ini dengan tantangannya. Bukankah Allah memberikan cobaan kepada makhluk-Nya sesuai dengan kemampuannya? Allah tidak tidur. Allah selalu membantu kita. Yang selalu saya tanamkan itu adalah SKENARIO ALLAH ADALAH SKENARIO TERINDAH. 

Membaca materi-materi matrikulasi kembali (karena matrikulasi IP new chapter via Facebook Group yang bisa saya akses), me-refresh mindset saya. Saya baca ulang NHW-NHW yang tersimpan rapi di sini. Dan saya menemukan ‘aha moment’ kembali. Saya kembali fokus ke langkah-langkah menjadi Ibu Profesional.

Pasti akan banyak tantangan yang akan saya hadapi di depan mata, terutama manajemen waktu. Jujur, manajemen waktu saya masih berantakan. Kandang waktu tidak berjalan sebagaimana mestinya, terutama di rumah. Keinginan untuk memegang gawai dan berleha-leha masih kuat. Padahal ada Kabay yang memerlukan perhatian saya. Tapi saya terus berusaha memperbaiki manajemen waktu ini. Sedikit demi sedikit saya terus perbaiki. 

Di dunia BLOGGING pun banyak yang harus dipelajari. Tentang SEO, DA, teknik content writing, teknik infografis dan sebagainya. Niat menulis pun harus terus di-refresh, yaitu menebar manfaat. Hadiah lomba atau materi itu bonus. Tenang, rezeki dari Allah nggak akan tertukar. Kita semua sudah punya jatah rezeki sampai kita kembali kepada-Nya.

Dalam mendidik anak-anak pun saya masih sangat jauh dari kata sempurna. Begitu banyak teori parenting yang dapat dipelajari, termasuk di Institut Ibu Profesional ini. Parenting ini tidak diajarkan di bangku sekolah tapi sangat besar efeknya. Karena sesungguhnya mendidik satu orang ibu sama dengan mencerdaskan satu generasi. Saya ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak kami. Oleh karena itu, saya harus terus memantaskan diri agar dapat menjadi orang tua yang dapat membersamai mereka mencapai potensi terbaiknya.

“Anak-anak itu terlahir hebat, orang tuanyalah yang harus memantaskan diri untuk amanah anak-anak hebat.”

Dodik Mariyanto

Bismillah… Semoga Allah meridhai dan memberkahi langkah-langkah kita bersama kelas Bunda Sayang Batch 6 ini. Terima kasih juga Kangmas yang terus mendukungku untuk tetap belajar di Ibu Profesional… Yuk Bi, Nak, kita belajar bareng ya untuk terus upgrade diri menggapai ridha-Nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *