Pra Bunda Sayang Batch 6: Wahana 2 – Surfing

Ibu Profesional Pra Bunda Sayang Surfing

Pra Bunda Sayang – Surfing. Setelah beres main-main di pantai di Wahana 1 Istana Pasir Kelas Bunda Sayang, saatnya kita mulai maju main di laut, yaitu Wahana 2 Surfing! Jburrrr! Syuuut! Siapkan papan luncur dan keseimbangan biar nggak jatuh diterjang ombak.

Setelah menonton siaran ulang live di FBG Pulau Cahaya dan merenung (ceilaaah), saya baru mengerti kenapa wahana kedua ini disebut surfing alias berselacar. Jadi begini ceritanya… Ehm, jangan lupa pakai sunblock dulu, gaes, mataharinya lumayan terik. Nanti gosong deh kulit kita, hihihi… Kecipak-kecipuk dulu di air laut, pemasanan sebelum nyebur ke tengah laut. 

Yuk, mulai ceritanya!

Dalam surfing, hal yang paling utama dibutuhkan adalah KESEIMBANGAN. Kita harus mengatur keseimbangan sedemikian rupa agar dapat berdiri di papan luncur dengan baik agar dapat mengarungi ombak yang kencang. Nanti ujungnya dapat sampai kembali di pantai tanpa jatuh atau tenggelam di laut.

Nah, dalam berkomunitas juga kita harus dapat menjaga keseimbangan ini. Ibu Profesional punya suatu guide, yaitu Code of Conduct (CoC) agar kita bisa berkomunitas dengan seimbang. Wow, makanan berat apa CoC ini?

*****

CODE OF CONDUCT IBU PROFESIONAL

Code of Conduct dalam bahasa Indonesia dapat diartikan pedoman perilaku bermartabat, yaitu beberapa aturan yang dibuat, dipahami dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama (sumber: Code of Conduct Ibu Profesional). CoC harus dipatuhi baik oleh pengurus maupun anggota.

CoC ini memang terkesan berat. Tapi nggak berat-berat amat. Karena di Ibu Profesional, semuanya boleh kecuali yang tidak boleh. Dan yang tidak boleh ini kalau dirangkum hanya ada 5. Apa saja itu?

  1. Bicara politik dan kritik pemerintah
  2. Ghibah dan fitnah
  3. Membicarakan SARAT (Suku, Ras, Agama dan Anggota Tubuh)
  4. Khilafiyah
  5. Konflik kepentingan

Di CoC ini juga diatur Pedoman Perilaku Ibu Profesional, yaitu:

  1. Perilaku bermartabat
  2. Berbagi dan melayani
  3. Integritas tinggi

Ada juga penjelasan tentang Perilaku Nista. Iih, serem amat ya pakai istilah ‘nista’. Bikin nggak nyaman di telinga. Ternyata emang sengaja pakai istilah itu biar kita nggak melakukan hal itu. Apa saja yang masuk ke perilaku nista ala CoC Ibu Profesional?

  1. Memiliki adab yang tidak baik
  2. Pasif dan tidak bertanggungjawab
  3. Publikasi yang tidak bermartabat dan tidak bertanggungjawab

Inilah beberapa rangkuman pemahaman CoC menurut saya. Waktu baca CoC, ada yang ngejleb banget sih di bagian pasif, jadi silent reader itu termasuk sikap pasif loh *self-plaked*

*****

PERJALANAN SAYA BERSELANCAR DI IBU PROFESIONAL

Saya kenal Ibu Profesional di tahun 2018, tepat 2 tahun yang lalu di bulan Agustus. Saya ikut kelas Matrikulasi Batch 6. Saat itu kondisi saya sedang hamil Kabay jadi masih banyak banget waktu luang. Saya yang introvert dan nggak suka banget people organising mencoba mengajukan diri menjadi pengurus kelas dan Koordinator Mingguan. Wow, what an experience! Jadi pengurus untuk komunitas yang saya nggak kenal sama sekali orang-orangnya.

Alhamdulillah, semua NHW bisa saya selesaikan tepat waktu. Sampai saya dapat kesempatan untuk ikut Student Exchange ke IP Tangsel. Happy banget deh! Saya, Yang tadinya mostly jadi seorang SR alias silent reader di beberapa grup WA, terus berusaha aktif di grup. Ngerame-ramein, ngasih dukungan positif, pokoknya seru aja di grup tuh. Karena temen-temen di IP juga terus menjalankan CoC.

Nah, udah lulus matrikulasi, kita boleh ikut rumah belajar (rumbel) sesuai minat dan hobi. Di IP new chapter ini, ada 3 jurusan, mau ikut Selasar Institut Ibu Profesional, Kampung Komunitas atau Sejuta Cinta. Saya pilih tetep ikut komunitas rumbel dan mau belajar di Institut. Berhubung belum rezeki saya ikut Bunda Sayang Batch 5, saya gabung aja di rumbel. Sempat ditawari jadi Pengurus IP Bogor tapi Kangmas belum ngizinin. Yaudah dengan berat hati saya tolak. Ditawari juga jadi pengurus rumbel. Tadinya mau saya tolak soalnya saya takut nggak bisa menjalankan tugas dengan baik. Tapi saya mau nyoba dulu aja. Yowess, saya terima jabatan itu.

Ehhh, kok makin ke sini saya mulai jadi SR lagi, ya? Jujur, saya kesel sama diri sendiri. Ternyata jadi pengurus komunitas itu memang butuh komitmen tinggi and I’m lack of that. Saya lebih suka jadi volunteer yang terserah saya, tanpa terikat apapun. I know I’m egoist on this area, so sorry. 

Ditambah penggunaan hp yang bikin saya, “Ayo nak, buruan tidur. Mbun mau ngerjain ini nih.”. Saya ngerasa bersalah sama Kabay karena mungkin dia masih pengen main sama saya sepulang kantor. Huhuhu, jadi syediiih…

Ke depannya saya harus mengatur prioritas lagi dengan mengajukan pertanyaan:

  1. Apakah Kangmas mengizinkan?
  2. Apakah saya suka bidang ini?
  3. Apakah saya bisa berkontribusi lebih di sini?

Kalau semuanya memiliki jawaban IYA, I’ll go for it. Tapi kalau salah satunya TIDAK, then sorry I have to leave it

Kalau kepengurusan udah beres, mungkin saya akan mengundurkan diri dari jabatan saya sekarang dan lebih fokus pada bidang yang memang saya minati, yaitu Institut Ibu Profesional. Sesuai niat saya di awal yang ingin belajar menjadi ibu yang lebih baik dalam mendidik anak dan keluarga.

Perjalanan saya di ibu profesional

Saya tahu ini berat untuk saya (dan mungkin teman-teman). Tapi agar saya tetap bisa menjalankan CoC dengan baik, saya harus bisa mengatur prioritas di Ibu Profesional.

Terima kasih Biyung Ratna dan Bune Yani yang sudah menjadi tour guide di wahana surfing kali ini. Yuk, terus semangat belajar di Kelas Bunda Sayang!

2 thoughts on “Pra Bunda Sayang Batch 6: Wahana 2 – Surfing”

    1. Hai Ceu Ranti, salam kenal juga 😀
      Asiiik, kita sekelas, seneng banget deh ada yang blogger juga, hihihi…
      Iya ceu, rencananya blog ini buat portfolio digital anak-anak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *