Aliran Rasa Zona 2 – Melatih Kemandirian Anak

Aliran Rasa Zona 2 Bunda Sayang Surat Cinta

Dear Thariq, anak sholeh Mbun dan Yabi…

Bagaimana perasaanmu kemarin 15 hari bermain bersama Mbun dan Yabi sekaligus melatih kemandirianmu? Apakah bahagia? Apakah kesal? Atau justru kamu bingung “Sedang apa sih kita ini?”?

Nak, 15 hari kemarin adalah awal dari usaha Mbun untuk melatih kemandirianmu. Mungkin kamu menganggap Mbun terlalu berlebihan mengajarimu untuk mengembalikan mainan sehabis bermain, merapikan buku kembali ke raknya, membersihkan makanan sendiri jika Thariq mengeluarkan snack dari toples, belajar kumur-kumur sampai menjemur handuk sendiri sehabis mandi. Kegiatan ini sudah Mbun ajari padahal Thariq masih berusia kurang dari 2 tahun.

Tapi percayalah nak, Mbun melakukan ini semua bukan karena Mbun tidak menyayangimu. Bukan karena Mbun tega padahal dirimu masih kecil. Justru karena Mbun sangat menyayangimu. Justru karena Mbun tidak tega kamu tidak bisa mandiri di usiamu yang seharusnya sudah bisa bertanggungjawab kepada diri sendiri.

Masa depan tidak ada yang tahu nak, kecuali Allah. Jikalau Mbun atau Yabi pulang terlebih dahulu mendahuluimu, Mbun tidak ingin kamu sangat bergantung kepada Mbun atau Yabi. Mbun dan Yabi ingin Thariq bisa berdiri di kaki sendiri, bisa bertanggungjawab minimal untuk diri sendiri. Apa lagi nanti kamu Insya Allah akan menjadi seorang imam bagi istrimu dan anak-anakmu.

Lima belas hari kemarin tentu ada momen senang dan menantang. Pasti kamu juga merasakan itu, kan? Ada kalanya kita berdua bagaikan sepasang kekasih yang sehati, seiya, sekata. Bahkan tanpa diduga kamu melebihi ekspektasi yang Mbun harapkan.

Tapi ada juga kalanya Thariq ingin menjadi partner Mbun dalam melatih kesabaran. Mbun terus berusaha agar tidak pernah keluar kata-kata yang dapat mengecilkanmu. Mbun terus berusaha agar nada bicaranya ini tidak keluar dari nada riang. Mbun terus berusaha agar sabar Mbun bisa seluas samudera dalam mendampingimu bersiap menghadapi dunia.

Mbun tidak ingin syaraf-syaraf yang sedang saling tersusun di otakmu rusak dan terputus hanya karena Mbun khilaf meninggikan suara. Mbun tidak ingin memori polos dan riangmu ternoda oleh bentakan dan amarah Mbun. Mbun ingin mengukir memori indah bersamamu, nak.

Thariq, anak cerdas Mbun dan Yabi…

Percayalah bahwa Mbun dan Yabi selalu menyayangimu, selalu mendukungmu selama Allah meridhaimu langkahmu. Jika nanti Mbun dan Yabi sudah tidak ada, berpeganglah teguh kepada Al-Quran dan Hadist. Pasrahkan segala-galanya pada Allah. Karena tidak ada yang Maha Kuat dan Maha Abadi selain Allah.

Doakan Mbun dan Yabi ya, nak, agar bisa terus mendampingimu hingga kamu besar, hingga kamu mengutarakan niatmu untuk menikahi seorang gadis, hingga lahir anak-anakmu. Semoga Allah mengumpulkan kita semua nanti di Jannah-nya yang kekal.

Dari Mbun dan Yabi,
Yang tak pernah berhenti mendoakan kebaikan untukmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *